Jejak Komunitas Tionghoa di Kota Bandung

Sugiri Kustedja

Center for Chinese Diaspora Studies, Universitas Kristen Maranatha. Bandung

Email: xietiangong2012@gmail.com 

*Sebagian dari tulisan ini pernah dimuat dalam jurnal Sosioteknologi (ITB, Bandung). August 2012. Jejak Komunitas Tionghoa dan Perkembangan Kota Bandung. Untuk keperluan publikasi di ruang ini ada beberapa penyesuaian..

Jalur pelayaran antara Tiongkok Selatan dan Nusantara sudah berlangsung berabad-abad terbukti dari beberapa catatan tertulis kuno yang ada. Antara lain buku Shun-feng xiang-song 順風相送 “mengikuti hembusan angin menghantar kiriman” yang merupakan buku pedoman pelaut Tionghoa pada abad ke15. Buku ini ditulis sekitar awal tahun 1430. Pada versi terbitan tahun 1571 mungkin ada tambahan. Buku ini menguraikan teori pelayaran dan pelaksanaan, doa-doa yang membantu, dan penjelasan tempat-tempat yang dapat dicapai. Ada 2 (dua) jalur pelayaran; yaitu alur barat menelusuri pantai Asia tenggara dan semenanjung Malaka ke Sumatra dan Jawa, serta alur timur melalui kepulauan Philipina lanjut ke kepulauan Maluku dan pantai barat Kalimantan.

Untuk pelayarannya, mereka menggunakan perahu junk kayu. Mereka membawa barang-barang dagangan hasil produksi lokal, keramik, sutra, barang dari logam, dan obat-obatan. Dari Nusantara mereka membawa hasil bumi, rempah-rempah, hasil hutan, kayu, hasil laut, dan produk daerah tropis lainnya yang tidak dihasilkan di Tiongkok sendiri. Mereka berlayar mengikuti angin musim yang bertiup selama empat bulan dari daerah utara khatulistiwa (Tiongkok Selatan) ke arah Nusantara, dan berlayar kembali pada musim berikutnya mengikuti angin dari selatan khatulistiwa ke utara. Selama penantian pergantian musim ini, mereka tinggal di sekitar pelabuhan yang disinggahi. Di sini mereka berdagang dan memperbaiki perahu-perahu untuk persiapan pelayaran berikutnya. Hal ini memungkinkan para pelaut pedagang ini untuk menikah dengan perempuan setempat, sehingga kemudian timbullah budaya masyarakat Tionghoa peranakan setempat. Ketika perahu-perahu Belanda pertama singgah di pelabuhan Banten tahun 1596, para pelaut Belanda melihat telah banyak warga Tionghoa yang bermukim di Banten. Mereka menetap dan berdagang di antara masyarakat Banten.

Pada tahun 1619 Belanda secara bertahap mulai menguasai Sunda Kelapa dan menjadikannya lokasi pijakan menetap untuk usaha perdagangannya. Mereka membangun benteng hingga kemudian meningkat dan berkembang menjadi kota Batavia. Untuk menghidupkan Batavia dan membangunnya, Belanda mengundang dan mendatangkan para tukang, pemukim warga Tionghoa dan warga lain dari pulau-pulau di luar pulau Jawa, misalnya Ambon dan Bali. Berita perkembangan kota yang pesat mengundang banyak pendatang baru, imigran swakarsa Tionghoa tiba tak terencana, menimbulkan penganguran dan ketegangan di Batavia. Akhirnya tahun 1740 meletuslah kerusuhan pembunuhan warga Tionghoa oleh Belanda: Chineezenmoord. Mereka yang lolos melarikan diri ke pedalaman hingga ke Jawa Tengah, lalu bersekutu dengan para penguasa pesisir dan para bupati Pantura untuk melawan VOC. Timbulah “Perang Sepanjang” (Perang Kuning), 1740 – 1743. Pertempuran yang berat ini (hampir saja mereka dapat mengalahkan pasukan Belanda) menyadarkan VOC, bahwa bila warga Tionghoa menyatu dengan masyarakat setempat, maka mereka akan sulit diatasi oleh Belanda yang berniat menjajah lebih jauh lagi.

Sejak ini muncullah pengaturan segregasi berdasarkan kelompok suku dan etnis: wijkenstelsel. Warga Tionghoa harus tinggal di wilayah tertentu yang dibatasi tegas dan selalu diawasi di dalam ghetto (Chineesche kamp). Bila hendak ke luar daerah, mereka wajib memiliki surat izin (passen-stelsel). Secara historis arti dan asal kata “pecinan” (pacinaan) untuk daerah tertentu yang terbatas berasal dari proses sejarah ini. Kemudian hari politik segregasi ras ini disebut “devide et impera” politik pecah belah dan mengadu-adu.

Penggunaan istilah komunitas Tionghoa secara global merupakan penyederhanaan yang sangat rancu, seolah-olah suatu entitas solid dan homogen. Sebenarnya dalam komunitas itu sendiri dapat dipilah menurut banyak segi. Mayoritas pendatang adalah dari daerah Tiongkok Selatan, yang sekarang disebut propinsi Fujian dan Gwangdong. Mereka terdiri dari beragam dialek dari daerah asalnya, misalnya Teochiu, Hokkian, Hokciah, Hakka, Konghu, Hainan, Gwangdong, Shandong, Cantonese. Masing-masing dengan bahasa dialek percakapan yang tidak dimengerti oleh kelompok dialek lainnya. Ada juga pengelompokan menurut pendidikan yang pernah dialaminya: sekolah Tionghoa, sekolah berbahasa Belanda, sekolah nasional Indonesia, mereka yang pernah belajar di manca negara: Eropa, Amerika Serikat, Australia, Jepang, Tiongkok dst. Masih ada juga pembagian totok dan peranakan, atau orientasi politik yang pro Taiwan (Nasionalis, Guo Min Tang), atau Tiongkok Daratan (Komunis, Gong Chan Dang). Penjelasan tambahan latar belakang situasi demikian akan membantu ketika membahas ragam budaya komunitas Tionghoa di Nusantara.

Groote Postweg dan Perkembangan Kota Bandung

Bila diteliti di pulau Jawa, kota-kota besar yang bersejarah lama kebanyakan terletak di pesisir utara pantai. Kota-kota utama ini dihubungkan dengan jalur jalan raya yang juga memiliki sejarah cukup lama. Jalur jalan yang diawali oleh gubernur jendral Belanda Daendels pada tahun 1808, jalan raya dari Anyer hingga Penarukan dikenal sebagai “Groote Postweg” atau Jalan Raya Pos. Jalan ini menyambungkan ruas-ruas jalan yang sudah ada, dan juga membuka jalur baru dari Bogor hingga Jawa Tengah. Tujuan utama Daendels adalah untuk mempermudah pergerakan pasukan, untuk mempertahankan pulau Jawa sekiranya pihak Inggris menyerbu. Daendels dikirim mewakili Republik Batav Belanda yang ketika itu telah diduduki oleh Napoleon Boneparte dari Perancis. Jalan Raya Pos kemudian hari terbukti besar perannya dalam memajukan perekonomian dan perkembangan pada kota-kota yang dilewatinya di pulau Jawa (berupa ribbon area development).

Awal pembangunan dan perkembangan kota Bandung sangat erat berkaitan dengan jalur Jalan Raya Pos ini. Gubernur Jendral Hindia Belanda ke-36 Herman Willem Daendels (1808-1811), memerintahkan Bupati R.A. Wiranatakusumah II (1794-1829) memindahkan pusat kota lama (Dayeuh Kolot) ke tempat baru yang dilewati oleh jalur Jalan Raya Pos. Titik awal kota yang ditunjukkan kemudian dijadikan tonggak Kilometer Nol kota Bandung. Daendels menerbitkan surat keputusan pemindahan bertanggal 25 September 1810 dan hingga sekarang tanggal tersebut diperingati sebagai hari jadi kota Bandung. Kampung-kampung berpenduduk yang paling tua di kota Bandung adalah daerah Cikapundung kolot, Balubur, Babakan Bogor (Kebonkawung), Cikalintu (Cipaganti). (H. Kunto. 1986: 188).

https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=7917646 (Gunawan Kartapranata)
Tugu 0 Kilometer Bandung https://komunitasaleut.com/2011/08/13/titik-nol-kilometer-bandung/

Pada tahun 1881 Oey Bouw Hoen ditunjuk oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai kepala komunitas Tionghoa yang pertama di Bandung. Ia diberi kepangkatan tituler mirip dalam kemiliteran, Luitenant der Chineezen te Bandoeng. Oey Bouw Hoen meninggal pada tahun berikutnya (1882) dan dimakamkan di Sentiong lama di Cicendo. Kompleks makam lama ini sudah tidak ada dan berubah menjadi permukiman, namun nisan Oey Bouw Hoen masih dapat dilihat (2017) menempel pada tembok salah satu rumah di dalam permukiman masyarakat yang terletak di belakang Rumah Sakit Mata Cicendo. Selanjutnya Luitenant der Chinezen yang kedua dijabat oleh Tan Haij Long (1882-1888), dan Luitenant der Chinezen ketiga (sekaligus yang terakhir) Tan Joen Liong (1888 -1917).

Read more: Jejak Komunitas Tionghoa di Kota Bandung
Kiri: Batu nisan Luitenant Tionghoa pertama di Bandoeng. Oeij Bouw Hoen, 1882. (Foto: Ridwan Hutagalung dan Arya Vidya Utama, Komunitas Aleut). Kanan: Batu nisan telah menjadi bagian dari tembok hunian penduduk, di sudut kiri bawah. (Foto tahun 2015, oleh Ridwan Hutagalung dan Arya Vidya Utama, Komunitas Aleut). Menurut cerita para sepuh masyarakat setempat dahulunya masih ada beberapa batu nisan lain di sekitar lokasi tersebut.
Makam Tan Joen Liong dan Ong Kwi Nio tahun 1917 dan tahun 2016. Tan Joen Liong adalah Luitenant Tionghoa ketiga dan terakhir di Bandoeng (foto Sugiri Kustedja).

Beberapa data bersejarah berupa angka-angka bagi kota Bandoeng, daerah Priangan dikumpulkan dari berbagai sumber dilampirkan berikut ini:

Penduduk Bandoeng, data dari beberapa sumber (1812-1910).
Penduduk Bandoeng. 1845. (D. Tunas. 2009: 28. Sumber: P.Bleeker 1947, 9. II: 109)

Daerah Priangan sejak pemerintahan VOC telah dipolakan secara khusus tertutup bagi para pendatang asing. Pada bulan April 1764 dikeluarkan larangan untuk etnis Tionghoa, Eropa atau pun kelompok lain yang bukan penduduk asli Priangan untuk masuk, dengan ancaman hukuman bagi yang melanggar. Menurut catatan pada tahun 1809 hanya pemukim Tionghoa saja yang diijinkan untuk berdagang beras di daerah ini dan tertutup untuk yang lain. Daendels memerintahkan pada tahun 1810 agar mulai dibangun wijk khusus hunian Tionghoa Chineesche kamp, disertai perintah bila ada penghuni yang tidak kembali lagi pada hari yang sama, maka akan ditahanlah 10 keluarga Tionghoa lainnya (S. A. Siregar. 1990: 86).

Pembentukan kampung khusus Tionghoa Chineesche kamp ini berdasarkan besluit tanggal 9 Juni 1810, bersamaan dengan kota-kota lain di keresidenan Priangan: Cianjur, Parakan-muncang, Sumedang, Sukapura, Limbangan dan Galuh. Tujuan utama dikeluarkannya penunjukan daerah pecinan ini adalah dalam usaha untuk memberdayakan tanah-tanah kosong yang tidak bisa ditanami kopi dan padi serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan menggiatkan perdagangan.

Keputusan ini diambil setelah terbukti warga Tionghoa berhasil memajukan kesejahteraan dan perdagangan di daerah Kedu dan vorstenlanden sekitarnya. Tidak tercatat di Bandung di daerah mana pemukiman awal ini terletak; tapi mungkin diperkirakan sebelah barat Alun-alun Bandoeng. Profesor Dr. Godee Molsbergen memperkirakan pasar pertama dibangun di kampung Ciguriang, di belakang Jl. Kepatihan sekarang, sekitar tahun 1812 (E.G. Molsbergen, 1935) dan terbakar ketika terjadi huru hara Moenada pada pertengahan abad 19. Kemudian mereka berkumpul lagi dan berdagang di sekitar Pasar Baru sekarang. [1]

Ada pendapat lain (T.R. Skober. 2010: 201) yang memperkirakan para warga Tionghoa awalnya tinggal di daerah Banceuy. Kemudian setelah penduduk warga Tionghoa bertambah banyak, mereka menghuni daerah sebelah barat disebut Pasar Baru; disebut Pecinan. Sedang daerah sekitar Banceuy disebut sebagai Pecinan Lama.

Tahun 1821 Gubernur Jendral G.A. van der Capellen mengeluarkan peraturan yang melarang bangsa Belanda, Eropa, dan asing lain untuk menetap atau berdagang di daerah Priangan (9 Januari 1821, staatsblad no. 6 tahun 1821) (H. Kunto. 1984:17). Peraturan ini bertujuan agar perdagangan kopi dapat tetap dikendalikan secara monopoli hanya oleh pemerintah Hindia Belanda (C. Day, 1972: 234). Baru pada tahun 1852 Keresidenan Priangan dinyatakan terbuka oleh pemerintah Hindia Belanda dan bebas dimasuki oleh para pedatang.

Berbeda dengan kota-kota tua di pesisir pantura Jawa dengan sejarah yang lebih lama dan lebih terbuka untuk pendatang etnis Tionghoa; di sana hampir selalu dapat ditemukan daerah pecinan yang homogen, padat dan jelas batasannya. Berbeda dengan di daerah Bandung – Priangan, bagi etnis Tionghoa adalah daerah terakhir yang diijinkan untuk dapat menetap.

Keadaan ini lebih meluas lagi setelah tahun 1911 ketika pemerintah Hindia Belanda mencabut semua larangan yang membatasinya. Dengan demikian daerah hunian warga Tionghoa di Bandung hanya mempunyai sejarah yang singkat sampai saat Jepang masuk, yang dilanjutkan dengan kemerdekaan Indonesia, batasan daerah pecinan menjadi tersamar dan tidak tegas. Juga selama masa ini ada hambatan lain berupa peraturan Hindia Belanda yang berawal dari tahun 1875, melarang penjualan tanah pertanian pribumi pada warga Tionghoa tetap berlaku. (Tan, Mely G Tan. 1979: 19). Peraturan ini kemudian hari baru digantikan oleh peraturan agraria nasional pada masa pemerintahan Soeharto.

Karena kegiatan utamanya bergerak dalam bidang perdagangan, komunitas Tionghoa cenderung bermukim disekitar pusat simpul (node) transportasi, dan jalur perhubungan (jalan raya, jalan kereta api). Kecenderungan ini menyebabkan sepanjang jalan raya pos, daerah stasiun kereta api dan pasar berubah sebagai pusat perdagangan (Pasar Baru).

Ciri khusus daerah niaga ini adalah hunian berupa deretan bangunan yang menyambung sepanjang tepi jalan utama berupa rumah petak, ruko satu lantai. Tempat tinggal dan berdagang bercampur, dinding muka dari bahan kayu disebut thiam-tang (dialek Hokkian, pinyin: dian-dang 店档) dinding muka masing-masing unit dapat dibuka, dilipat, atau dilepas pagi hari ketika berdagang dan ditutup kembali sore hari ketika kegiatan berhenti, bagian belakang atau lantai atas berfungsi untuk tempat tinggal (ruko horisontal atau vertikal). Deretan rumah petak merupakan ciri dominan kawasan pemukiman Tionghoa, unsur utama pembentuk kawasan. Untuk contoh dapat dilihat daerah kompleks Yap Lun di daerah Waringin yang masih memiliki ciri-ciri ini (2017).

Kemudian lingkungan kawasan dilengkapi dengan klenteng sebagai tempat aktivitas dan ibadah komunitas Tionghoa. Klenteng juga merupakan pusat kehidupan budaya dan sosial. Klenteng biasanya terletak berdekatan dengan daerah dagang. Klenteng juga merupakan focal point identitas kawasan.

Hunian bagi komunitas etnis Tionghoa yang intens demikian berakibat membentuk lingkungan khusus bercirikan typo-morphological patrimonial yang membedakannya dari bagian lingkungan kota lainnya (S. A. Siregar. 1990: 28-30, 37). Dengan bangunan berlanggam arsitektur mirip dari tempat asalnya di Tiongkok.

Jalan Kereta Api dan Perkembangan Kota Bandung.

Perkembangan dan kehidupan kota Bandung sangat erat berhubungan dengan keberadaan perkebunan di sekitarnya, ketika pemodal swasta asing diizinkan masuk ke daerah Priangan setelah peraturan Cultuurstelsel secara bertahap dihapuskan.

Dalam rangka ini tahun 1870 dikeluarkan peraturan agraria Hindia Belanda dan berdatanganlah para pemodal Eropa (Preangerplanters) memulai perkebunan kina, teh, karet, coklat disamping penanaman kopi yang sebelumnya diharuskan sebagai tanam paksa oleh pemerintahan kolonial Belanda. Para pemukim baru inilah yang menghidupkan kota Bandung sebagai kota berakhir pekan mereka.

Pada tahun 1869-1873 jalan kereta api dibangun antara Batavia dan Bogor, lalu tahun 1879 mulai diperpanjang melewati Bandung sampai Cicalengka (selesai tahun 1884) dan disambung ke Garut tahun 1889. Bogor–Sukabumi selesai tahun 1882, kemudian Bogor–Cianjur 1883, tahun 1884 Cianjur–Bandung tersambung pula. Untuk membangun jalan kereta api ini Belanda mendatangkan banyak buruh kasar dari Tiongkok. (N.H. Lubis. 2000:126)

Dengan demikian Bandung–Batavia telah dapat langsung ditempuh via Bogor. Sarana ini turut mempercepat perkembangan kota Bandung dengan lancarnya perniagaan ekspor barang hasil pertanian perkebunan dari pedalaman Priangan yang dikirim ke pelabuhan Tanjung Priok dan barang-barang kebutuhan warga Bandung pun dapat dengan mudah didatangkan. Kemudian tahun 1906 dibukalah jalan kereta api Bandung–Batavia melewati PadalarangKarawang yang lebih mempersingkat waktu tempuh antara kedua kota. (S. A. Siregar. 1990: 90-92) Dalam rangka pembangunan jalan kereta api ini kembali Belanda banyak mendatangkan tenaga kerja etnis Tionghoa. (H. Kunto. 1986: 362).

Pada tahun 1856 Gubernur Jendral Hindia Belanda Charles Ferdinand Pahud berniat memindahkan ibukota keresidenan Priangan dari Cianjur ke Bandung. Gagasan ini baru terwujud pada tahun 1864 bertepatan dengan letusan gunung Gede, residen van der Moore pindah ke Bandung disertai sekretaris, komisaris, mantri kesehatan, guru dan notaris (H. Kunto. 1984: 18).

Lalu pada tahun 1894 Balai besar kereta api pindah ke Bandoeng, disusul 1898 pabrik senjata, mesiu dan ACW (artillerie constructie winkel) ke daerah Kiaracondong (PINDAD sekarang) dari Surabaya. Setelah sebelumnya 1896 dibangun pusat militer di daerah Cimahi; sebelah barat kota Bandng.

Semuanya menyumbang pada perkembangan kota. (H. Kunto. 1986: 835). Di sekitar stasiun kereta api sisi selatan tumbuhlah usaha yang menunjang perjalanan: hotel-hotel, restoran dan toko. Daerah Suniaraja, Kebonjati, Pasar Baru, Oto Iskandar Dinata, dan Banceuy.

Awal abad ke-20, pada tahun 1919 Bandung direncanakan untuk menjadi ibukota Hindia Belanda. Dimulailah perencanaan kota yang lengkap dan pembangunan berkembang. Di antaranya dalam pelaksanaan ketika membangun Gedung Sate; Belanda juga memanfaatkan para tenaga ahli bangunan etnis Tionghoa.

Stasiun kereta api Bandoeng 1884 (kiri), dan 1926 (kanan). (RPGA Voskuil. 1996: 124)
Perkembangan jaringan rel kereta apai di pulau Jawa.
Kiri: Setasiun kereta api Bandung dibangun ulang tahun 1928. Tugu SS (Staats Spoorwagen) memperingati ulang tahun ke 50 (5 Juni 1926, direncanakan oleh Ir. EH de Roo) dengan lampu listrik, merupakan salah satu titik ordinat pemetaan triangulasi kota Bandung. Kanan: Gudang Ciroyom, Paskal Hypersquare sekarang. (S.A. Reitsma. 1925: 171)

Persilangan Jalan kereta api dengan jalan Pasirkaliki (1925). Sudut kanan perempatan pertemuan berupa gedung gudang Ciroyom yang sekarang digunakan sebagai Paskal Hypersquare. (S.A. Reitsma. 1925: 45)

Perencanaan kota Bandung. Pada tgl 21 Februari 1906 kota Bandung memperoleh status “Gemeente” dengan Burgemeester pertama B. Coops. Untuk mengevaluasi kondisi Bandung pemerintah Hindia Belanda membentuk “Commissie voor de Beoordeeling van de uitbreidingsplannen der Gemeente Bandoeng“ dipimpin oleh E.H. Karsten.

Dalam laporan no.4, tgl. 12 Agustus 1919, disebutkan kegiatan ekonomi kota Bandung sangat terpusat di daerah Chineezenwijk (Pecinan) sekitar Pasar Baroe. Perputaran usaha di Pasar Baru 5 kali lebih banyak dari pergerakan di Pasar Andir atau Pasar Kosambi. Juga kepala dinas kereta api menyampaikan laporan bahwa 80% penumpang kereta yang turun di stasiun Bandung setiap hari adalah para commuters. Sehingga Karsten di antaranya mengajukan usulan, yang lalu dilaksanakan untuk membagi dan memudahkan para penumpang kereta turun sedekat mungkin pada tujuan, dibangunlah halte kereta api di Andir, Ciroyom, Cikudapateuh, Kiaracondong, Jl. Jawa, Jl. Karees (Gatot Subroto sekarang).

Thomas Karsten (1885-1945) pada laporan tahun 1938, menyatakan bahwa pembagian lingkungan segregasi menurut etnis merupakan penyebab masalah sosial-budaya di Hindia Belanda yang menimbulkan konflik kepentingan selama tahun 1920-an. Karsten mengusulkan perubahan berdasarkan zoning lingkungan disusun menurut fungsi ruang dan type bangunan. Sesuai dengan semangat modern pada awal abad 20, efisiensi, kesejahteraan dan perluasan. (D. Tunas. 2009: 27-28).

Lingkungan Pasar Baru. Pada peta kota Bandung tahun 1882 telah terlihat bangunan sepanjang Pangeran Soemedangweg (sekarang Jl. Otista) dan Groote Postweg (sekarang Jl. Asia-Afrika dan Jl. Jend. Sudirman) berupa deretan pertokoan yang dimiliki oleh pengusaha pribumi yang tinggal di sekitar Pasar Baru yang dikenal sebagai “Saudagar Bandung”, “orang pasar”, “mandoran.” Menurut cerita, “rehrehan urang pasar” ini adalah keturunan prajurit dan senapati Pangeran Diponegoro yang mengungsi, banyak di antaranya berdagang kain batik dari Jawa tengah. (H. Kunto. 1986: 832-856)

Tampak streetscape kini, ada beberapa lingkungan hunian historis etnis Tionghoa. Suasana di jalan-jalan Pecinan Lama, Pasar Utara, Belakang Pasar, Pasar Barat, kompleks Yap-Lun, Jendral Sudirman, dapat diperhatikan bahwa suasana di tepi jalan jalan-jalan sekitar Pasar Baru telah berubah sama sekali. Bangunan yang ada sebagian besar merupakan perbaruan dengan langgam arsitektur masa kini. Bangunan-bangunan historis era kolonial hampir hilang semuanya. Tidak lagi dapat dilihat suasana dahulu.

Yang masih dapat ditemui adalah suasana kesibukan perdagangan pada hari-hari kerja, disertai kemacetan lalu lintas di sepanjang jalan-jalan ini. Kemungkinan besar perkembangan di sekitar Pasar Baru (perubahan menjadi bangunan-bangunan berlanggam mutakhir) merupakan imbas dari pembangunan renovasi bangunan Pasar-baru sendiri sebagai bangunan utama yang menentukan lingkungannya. Sedikitnya bangunan pasar ini sejak era kemerdekaan sampai sekarang telah dua kali dibongkar total dan dibangun baru kembali. Setiap terjadi hal ini selalu diikuti oleh renovasi bangunan para penghuni di jalan sekeliling bangunan Pasar Baru tsb.

Jl. Pecinan lama, Kampung Pecinan. Nama jalan dan kampung ini agaknya hanya menunjukkan bahwa di daerah ini dahulu terdapat komunitas Tionghoa yang bermukim dalam jumlah agak banyak. Dari penelusuran selama ini di Bandung tidak pernah ditemukan jejak lokasi Pecinan yang sesungguhnya. Di Jl. Banceuy dekat sudut Jl. Suniaraja, sekarang terdapat pertokoan bertingkat alat-alat mobil bekas, dahulu disebut sebagai daerah Sentiong, yang artinya daerah permakaman Tionghoa. Ini menunjukkan bahwa di dekat daerah tersebut mungkin pernah ada permukiman kelompok warga Tionghoa.

Dari sudut sejarah asal istilah pecinan (pecinaan). Pemerintah kolonial Belanda (sejak zaman VOC) pernah berulang kali mengeluarkan peraturan yang mengharuskan komunitas Tionghoa hanya boleh bermukim di tempat tertentu. Diberi batas tetap di satu lokasi (seperti ghetto) wijkenstelsel, penghuni yang hendak keluar dari batas lokasi itu memerlukan surat izin jalan atau passenstelsel. Lokasi demikian itu disebut sebagai Pecinan. Tujuan politis Belanda adalah agar komunitas Tionghoa selalu terpisah dengan penduduk lokal agar mudah diperalat sebagai kelompok buffer terhadap penduduk setempat (politik devide et impera). Mereka diarahkan sebagai pedagang pengecer dan perantara bagi masyarakat umum. Daerah Pecinan yang nyata, terdapat di kota-kota tua Pantura pulau Jawa di antaranya adalah Batavia, Cirebon, Semarang, dan Surabaya.

Sedangkan daerah Keresidenan Priangan oleh Belanda dinyatakan tertutup bagi para pendatang asing. Peraturan ini ditujukan Belanda untuk menjaga politik tanam paksa Cultuurstelsel, hasil pertanian produk ekspor kopi agar benar-benar dimonopoli hanya dijual kepada pemerintah kolonial Belanda. Bila ada pedagang perantara Tionghoa yang biasa dan mampu masuk hingga ke pelosok desa akan merupakan pesaing, harga beli pemerintah Belanda tidak akan dapat ditekan; sehingga menggagalkan tujuan politik tanam paksa membeli dengan harga semurah mungkin untuk diekspor ke Eropa.

Keadaan baru berubah pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, ketika tanam paksa dihapuskan, dan daerah Priangan dinyatakan sebagai daerah terbuka. Masuklah para pemodal asing Jerman, Italia, Inggris, Belanda, dsb, yang membuka onderneming di Jawa Barat. Komunitas Tionghoa juga bebas masuk dan bermukim di Bandung. Dengan demikian warga Tionghoa yang tinggal di Bandung hanya memiliki sejarah singkat dalam masa penjajahan Belanda, hanya sampai tahun 1942 ketika Jepang masuk. Mereka tinggal di sekitar jalan Groote Posweg. Banyak yang tinggal di sepanjang jalan utama ini disebabkan mata pencariannya sebagai pedagang. Untuk berdagang diperlukan transportasi barang-barang yang mudah dan cepat. Ketika kemudian jalan kereta api masuk ke Bandung, para pedagang juga bermukim di lingkungan sekitar stasiun kereta api, memudahkan mereka bongkar muat barang-barang yang diperdagangkan. Berkembanglah toko-toko di daerah Banceuy, Suniaraja, Pasar Baru, disertai restoran dan penginapan bagi para penumpang kereta api. Kawasan ini sekarang menjadi daerah niaga, daerah perdagangan di bagian kota tua Bandung.

Jl. Jo Sun Bie, Jl. Petjinan Lama, Jl. Ong Toa Tin (Sumber: ([196-]). Bandung Retrieved March 12, 2026, from http://nla.gov.au/nla.obj-626145323)

Jl. Ong Toa Tin. Merupakan jalan cabang dari Jl. Belakang Pasar. Di peta lama, ujung lain gang ini bertemu dengan Jl. Dulatip. Di sisi jalan, sampai sekarang (2018) masih terdapat deretan bangunan hunian dan toko yang dibangun oleh Pak Ong. Gaya bangunannya mirip dengan deretan toko serupa yang terdapat di sepanjang Jl. Waringin.

Jl. Yo Sun Bie, sekarang Jl. Mayor Sunarya. Yo Sun-bie (1870 -1968) lahir di Changpu, Fujian. Sampai di Batavia tahun 1891, dan mulai berdagang tekstil 1895. Mendirikan pabrik tenun “Sin I Seng” dan pabrik sagu di Malangbong “Jo Sun Bie Kongsie”. Membangun ruko-ruko dua lantai di dekat Pasar baru, cabang Jl. Oto Iskandar Dinata sekarang, Jl. Jo Sun Bie.

Yo Sun Bie aktif di organisasi Chung Hua Chung Hui (paguyuban), THHK – Tionghoa Hwe Koan (pendidikan), Siang Hwe (perkumpulan perdagangan), dan merupakan simpatisan Dr. Sun Yat Sen. Ia mengalami interniran semasa pendudukan Jepang. Mendirikan sekolah “Soen Bie” dan menyumbang jalan. Meninggal di Bandung. (S. Setyautama. 2008:104) (Seorang putera angkatnya adalah Yo Giok Sie, industriawan textil Bandung pada tahun 1950-an yang mendirikan pabrik yang langka dan besar: BTN Badan Tekstil Nasional).

Jl. Jun Liong dan Jl. Tamblong. Sumber: ([196-]). Bandung Retrieved March 12, 2026, from http://nla.gov.au/nla.obj-626145323

Jl. Tamblong. menurut catatan tahun 1874 ketika penduduk Tionghoa baru 6 keluarga, ada pengrajin mebel suku Konghu bernama Tam Long, kemudian hari namanya dipakai untuk nama jalan di sisi timur Hotel Preanger (H. Kunto. 1986: 833).

Jl. Yun Liong, sekarang Jl. Baranang Siang, terletak di sisi muka pasar Kosambi. Tan Yun Liong (1888–1917) adalah seorang tokoh yang pernah ditunjuk Belanda menjadi Chineesen Luitennant ketiga (yang terakhir) di kota Bandung dulu. Keluarga ini memiliki pabrik tapioka yang besar dan luas yang terletak di seberang pasar Kosambi sekarang. Ia pernah menyumbang pembangunan sebuah jembatan di daerah Babatan. Jabatan Chineesen Luitennant merupakan gelar titular mirip dalam kemiliteran. Mereka ditunjuk untuk menjadi pemimpin di antara komunitas Tionghoa, bertanggung jawab untuk ketertiban komunitas, dan perantara penyampaian peraturan pemerintah kolonial pada komunitas. Tingkatannya adalah luitenant, kapitein, dan mayor. Mayor hanya ada di kota-kota besar (tua) dengan komunitas Tionghoa yang banyak, misalnya di pulau Jawa: Batavia, Cirebon, Semarang, dan Surabaya. Mayor membawahi para Kapitein, yang masing-masing dibantu oleh para luitenant.

Jl. Souw Tjin Kie, Jl. Gwan An (Andir), Jl. Jap Lun, Jl. Djambal, Jl. Gaboes, Jl. Peda, Jl. Teri, Jl. Sepat, Gg. Luna, Gg. Kam Soei, Jl. Lie Eng Boen, Jl. Kelenteng, Gg. Simtjong, Jl. Kompatosianto, Jl. Aurora, Jl. Gedong Delapan, Jl. Gedong Sembilan, Jl. Gedong Limabelas. Sumber: ([196-]). Bandung Retrieved March 12, 2026, from http://nla.gov.au/nla.obj-626145323

Gg. Sow Tjin Kie, sekarang Jl. Nawawi, teletak di daerah Jl. Jendral Sudirman sekarang. Sejak masa kolonial Belanda Sow adalah pemilik SPBU yang berlokasi tepat di sudut Jl. Jendral Sudirman dengan Gg. Souw Tjin Kie. Pada masanya SPBU sangat langka, dapat dihitung dengan jari tangan. Dari penelusuran koran-koran lama ternyata ia penggemar anjing ras, herder terutama. Sering kali anjing peliharaan pak Souw ini memperoleh gelar juara dalam pertandingan. Sampai saat meninggalnya dia tinggal di Jl. Dr. Rubini, Bandung.

Gg. Gwan An (Berasal dari nama dua bersaudara Kok Gwan & Kok An, pemilik industri mesin, gelas dan beras: NV Kong Liong), sekarang menjadi Jl. Andir. Menurut referensi, Poey Kok Gwan adalah seorang hartawan di Bandung, pada zamannya aktif dalam berorganisasi bersama masyarakat Tionghoa, THHK – Tionghoa Hwe Koan (pendidikan), Siang hwe (kumpulan perdagangan), direktur Koran “Sin Bin” (1925), anggota Dewan Regentschapsraad Bandung, Khong Kauw Tjong Hwe (keagamaan: ajaran Konghucu), Hok Gie Hwe (paguyuban), dan Chineesche werkloozenfonds.

Gwan lahir di Bandung tanggal 18 Desember 1886 dan meninggal pada 3 Mei 1964. Mengetahui banyak mengenai kebudayaan dan filsafat Tionghoa. (Tan Hong Boen. 1935:180). Mengusahakan perumahan di daerah Gedung Delapan, Gedung Sembilan, dan sekitarnya. Memiliki pabrik beras di Jawa Barat, pabrik mesin dan gelas “Kong Liong” di daerah Kerta Laksana sekarang. Daerah Kong Liong (dari nama dua bersaudara Kong Seng & Liong Seng, putera Kok An). Di lokasi yang sekarang jadi Jl. Andir, dahulu terdapat sekitar 400 unit rumah petak.

Peta tahun 1945. Gg. Gwan An, Gg. Souw Tjin Kie, Jl. Djambal, Jl. Gaboes, Jl. Peda, Jl. Teri, Jl. Sepat (Sumber: KITLV http://hdl.handle.net/1887.1/item:815927)

Gg. Sim Tjong. Sekarang Jl. R. Adibrata. Petak persil antara sungai Citepus dan Gg. Sim Tjong dahulu terletak rumah besar gaya Indies (mirip gedung Pakuan sekarang, bangunan telah dihancurkan rata dengan tanah pada tahun 2017) pemiliknya adalah keluarga Tan Sim Tjong. Hikayat keluarga ini muncul dalam novel “Rasia Bandung”, penulis sebenarnya belum diketahui, muncul dengan nama samaran Chabanneau. Ternyata cerita yang dituturkan adalah kisah nyata kehidupan anggota keluarga Tan. Beberapa keturunan dari para tokoh yang diceritakan masih dapat dijumpai di Belanda, Jerman, Jakarta, Bandung, Kanada (tahun 2018). Buku “Rasia Bandung” telah dicetak ulang oleh beberapa kelompok peminat sejarah kota Bandung pada tahun 2016-2017.

Jl. Aurora. Sejak masa gemente Bandung, di sudut selatan pertemuan Jl. Aurora dan Jl. Gardujati terletak percetakan Aurora. Pemilik perusahaan ini adalah keluarga dengan nama marga Ouw, puteranya menjadi seorang dokter yang dahulu berpraktek di Jl. dr. Gunawan, dr. Ouw Tek Jong (alm). Pada masanya ketika radio tabung baru pertama ditemukan, Pak Ouw pemilik percetakan Aurora, merupakan salah satu pemilik pertama di kota Bandung, beliau berinisiatif menaruh pesawat radio pertama ini di muka kantornya agar warga sekitar dapat turut mendengarkan siaran dari berbagai tempat dan negara. Setiap hari banyak pendengar berkumpul berkerumum di muka radio untuk mendengarkan sesuatu yang dianggap aneh pada masa itu.

Jl. Kelenteng. Di sisi barat jalan ini terletak bangunan klenteng tradisional tertua dan terbesar di kota Bandung. Klenteng Xie Tian Gong; Vihara Satya Budhi (dialek Hokkian: Hiap Thian Kiong), dibangun pada tahun 1885. Kondisinya relatif masih asli dan terpelihara, termasuk dalam daftar heritage kota Bandung yang dilindungi klasifikasi A. Berdekatan dengan ini, di Jl. Vihara terdapat klenteng Tanda Bakti, yang merupakan klenteng marga Tan. Melewati perempatan dengan Jl. Jendral Sudirman, di Jl. Cibadak terdapat beberapa klenteng lainnya yang dibangun pada masa setelah tahun 1900-an hingga abad ke-20. Terdapat sekitar tujuh buah klenteng, di antaranya empat buah klenteng perempuan, juga klenteng Daois, klenteng Konfucius, dan klenteng umum (Vihara Dana Ramsi, klenteng Ling Guan Shi).  

Kawasan Yap Lun, sekarang Jl. Gabus, Jl. Jambal, Jl. Kakap. Dari penelusuran, tercatat Yap Loen adalah seorang pengusaha tekstil dan properti. Aktif di banyak organisasi Tionghoa, THHK – Tionghoa Hwe Kwan (pendidikan), Siang Hwe (perdagangan), Hong Hoat Tong (paguyuban), anggota Dewan Regentschapsraad Bandung. Lahir tahun 1874 di Batavia, (menurut cucunya lahir di Tiongkok?), kembali ke Jawa pada usia 12 tahun, awalnya sebagai pedagang kain keliling ke desa-desa.

Menjadi kaya raya ketika pecah perang dunia ke-1 (1914-1918), karena impor kain dalam jumlah besar dari Jepang. Pada saat bersamaan di Eropa berlangsung Perang Dunia I sehingga tidak mampu mensuplai ke Hindia Belanda.

Bertempat tinggal di sudut pertemuan Gg. Luna (Nama mungkin berasal dari Lun-An; Yap Lun & Kok An) dan Groote Postweg. Yap Lun mengusahakan perumahan merangkap toko di daerah Jl. Waringin, Pasar Andir. Disebut sebagai kompleks Yap-lun, Yaploen straat, Yaploen plein. Terdiri dari sekitar 130 buah rowhouse ruko satu lantai (Tan Hong Boen. 1935: 185) dengan dinding muka berupa thiam-tang (dialek Hokkian, pinyin: dian-dang 店档) khas berarsitektur Tionghoa. Perusahaan pengembangnya: “Jap Loen & Co.“ dan “NV Bow Mij Tjoan Seng.”

Di daerah kompleks Yap-Lun masih dapat dilihat suasana seolah-olah waktu berhenti pada masa kolonial dahulu. Bangunan ruko satu lantai berderet sebagian besar tanpa banyak perubahan. Suasana khas daerah pecinan, disain dinding muka toko dari konstruksi kayu yang dapat dibuka ketika pagi, siang hari, sore hari dapat dipasang kembali (dialek Hokkian: thiam-tang, pinyin: dian-dang 店档). Merubah ruang depan ruko pagi hari sebagai ruang terbuka umum untuk aktivitas perdagangan. Ketika malam tiba kembali menjadi ruang hunian pemilik toko. Bangunan sempit yang memanjang ke arah dalam. Atap menerus sepanjang barisan ruko. Beberapa wuwungan masih terlihat berbentuk melengkung. Dilengkapi beberapa kepala tembok batas yang muncul keluar dari bidang atap berbentuk khas (Tembok gunungan, 山墙 pinyin: shan-qiang).

Daun pintu yang dibelah setengah tinggi. Aroma khas pasar selalu melingkupi lingkungan ini, disebabkan bahan dagangan ikan asin yang dijajakan para pedagang, bercampur sisa-sisa sayur dagangan, dan lingkungan yang tergenang air disebabkan buruknya sistem drainase kota di daerah ini.

Berdekatan dengan kompleks ini terdapat Pasar Andir yang merupakan pasar tradisional dengan massa bangunan yang sangat menentukan suasana sekitarnya. Pasar ini telah mengalami perombakan total beberapa waktu yang lalu. Bila berkaca pada suasana di lingkungan Pasar-baru sekarang, besar kemungkinan Pasar Andir ini juga ini akan berimbas juga pada bangunan lain disekelilingnya. Tetapi bila pihak Pemda berwibawa, seharusnya mampu dan dapat mengembalikan fungsi jalan dan trotoar sebagai peruntukan sebenarnya. Suasana yang kacau di kawasan Jl. Waringin sekarang jelas sangat menghambat gerak dan niat para pemilik rumah di sekitarnya, para PKL dapat semena-mena berdagang memenuhi seluruh trotoar dan badan jalan dari subuh sampai malam hari.

Dari segi sebagai suatu heritage lingkungan, kondisi situasi kompleks Yaplun sekarang adalah satu kesempatan ideal untuk memperoleh preservasi suasana masa dahulu. Bila Pemda dapat membuat suatu rencana yang integral menyeluruh sebagai suatu kawasan hunian Tionghoa bersejarah, daerah ini mungkin dapat dikembangkan menjadi suatu daerah tujuan wisata heritage baru. Para penghuni akan dapat memperbaharui kehidupan setempat, rejunivication. Mirip seperti China-town dibanyak kota-kota besar dunia. Suatu ide yang ambisius tetapi bukan tidak mungkin dapat dilaksanakan.

Lingkungan yang bernuansa khusus berlanggam arsitektur Tionghoa, dominan bangunan ruko satu lantai berderet, row-house shop-house bagi warga kebanyakan, memanjang dengan sisi muka langsung menempel pada tepi jalan umum. Konstruksi kayu dinding muka yang dapat dibuka pada siang hari untuk berusaha dan kemudian ditutup kembali ketika sore tiba. Dengan wuwungan atap bangunan yang menanjak di kedua ujung akhir. Kawasan biasa dilengkapi dengan klenteng tempat aktivitas komunitas dan beribadat, dengan ciri arsitektur yang mutlak mengacu bangunan asli serupa dari tempat asalnya.

Di kota Bandung sesuai sejarah berkembangnya kota, peran serta kelompok etnis Tionghoa ini terekam juga dalam nama-nama jalan. Mereka membangun hunian di daerah tersebut dengan langgam arsitektur khusus. Para tukang bangunan etnis Tionghoa banyak dimanfaatkan dalam pembangunan kota Bandung oleh pemerintahan kolonial Belanda, di antaranya pembangunan Gedung Sate dan pembangunan jalan kereta api.

Jejak toponimi komunitas Tionghoa pada perkembangan kota: Pada peta kota Bandung tahun 1955, masih terlihat pada beberapa kawasan kota terdapat beberapa nama jalan yang berkaitan erat dengan sejarah perkembangan kota bercirikan etnis Tiong Hoa. Nama jalan lain yang dapat diteliti lebih lanjut sejarah dan peran mereka dalam perkembangan kota Bandung menurut peta Bandung tahun 1955 antaranya: Jl. Kompato Sianto, Gg. Kam Soei, Gg. Tan Tie Wan, Gg. Lim Siong, Jl. Kosambi, Jl. Lie Eng Boen.

_____________________________________

[1] Mengenai hikayat Munada, dapat dibaca tulisan Ridwan Hutagalung pada web Mooibandoeng berikut:
https://mooibandoeng.com/2013/06/14/cerita-munada1/
–  https://mooibandoeng.com/2013/06/15/cerita-munada-bagian-2/

_____________________________________

Daftar Pustaka

Bleeker P. Bijdragen tot de Statistiek der Bevolking van Java. In Tijdschrift voor Nederlandsch Indies 9, II (1947), halaman 109.

Blusse, Leonard. 1979. Chinese Trade to Batavia During the Days of the V.O.C. Archipel 18. Halaman 195 -213. Paris: Publiees avec le concours du Centre National de la Recherche Scientifique.

Day, Clive. 1972. The Policy and Administration of the Dutch in Java. KualaLumpur. The Macmillan, New York 1904. Reprinted Oxford University Press.

Kemasang, ART. 1981. Overseas Chinese in Java and Their Liquidation in 1740. Southeast Asian Studies, vol. 19, no.2, September 1981. Kyoto University, Japan.

Kohl, David G. 1984. Chinese architecture in the Straits Settlements and Western Malaya: Temples, Kongsis and Houses. Singapore. Heinemann Asia

Kunto, Haryoto. 1984. Wajah Bandoeng tempo doeloe. Bandung. PT Granesia.

Kunto, Haryoto. 1986. Semerbak bunga di Bandung raya. Bandung. PT Granesia.

Liang Li Ji. 1981. Selayang pandang penyelidikan mengenai Indonesia di Tiongkok. 1981. Archipel 24, halaman 17 – 21. Paris. Publiees avec le concours du Centre National de la Recherche Scientifique.

Liem, Yusiu, Dr. 2000. Prasangka terhadap Etnis Cina. Jakarta, Penerbit Jambatan.

Lohanda, Mona. 2005. The Passen-en Wijkenstelsel. Dutch practice of restriction policy on the Chinese.

Jurnal sejarah. Juni 2005. Halaman:58-76. Jakarta. Yayasan Masyarakat sejarahwan Indonesia & Yayasan Obor Indonesia.

Lubis, Nina et.al. 2000. Sejarah Kota-kota Lama di Jawa Barat. Aquaprint Jatinangor. Bandung.

Mills, J.V.. 1979. Chinese Navigators in Insulinde about AD 1500. 1979. Archipel 18, halaman 69 – 93. Paris. Publiees avec le concours du Centre National de la Recherche Scientifique. Nagtegaal, Luc. 1996. Riding the Dutch tiger. Leiden. KITLV Press.

Raffles, Thomas Stamford. 1817. History of Java. Vol. I. London. Printed for Black, Parbury and Allen.

Reid, Anthony. 2004. Sejarah Modern Awal Asia Tenggara. Jakarta. LP3ES.

Reitsma. S.A. 1925. Gedenkboek der Staatsspoor- en Tramwegen in Nederlandsch-Indie. 1875-1925. Weltevreden. Topografische inrichting.

Salmon, Claudine. 2007. Cultural Links Between Insulindian Chinese and Fujian. 2007.Archipel 73. Halaman 167-194. Paris. Publiees avec le concours du Centre National de la Recherche Scientifique.

Setiono, Benny G. 2002. Tionghoa dalam Pusaran Politik. Jakarta. Elkasa.

Setyautama, Sam. 2008. Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia. Jakarta. KPG.

Siregar, Sandi Aminuddin. 1990. Bandung, the Architecture of a City in Development. Disertasi Katholiekke Universiteit Leuven.

Skinner, G. William. 1979. The Chinese Minority. Termuat dalam: Tan, Mely G. 1979. Golongan etnis Tionghoa di Indonesia. Halaman 1-29. Jakarta. Leknas-LIPI & Yayasan Obor Indonesia.

Skober, Tanti Restiasih. 2010. Orang Cina di Bandung. Dalam: Taufik Abdullah et.al. Indonesia Across Borders. Jakarta. LIPI Press.

Sofianto, Kunto. 2001. Garoet Kota Intan. Bandung. Alquaprint, Jatinangor.

Suryadinata, Leo. 2003. Penduduk Indonesia. Jakarta. LP3ES.

Tan Hong Boen. 1935. Orang-orang Tionghoa jang Terkemoeka di Java. Solo. The Biographical centre.

Tan, Mely G. 1979. Golongan Etnis Tionghoa di Indonesia. Jakarta. Leknas-LIPI & Yayasan Obor Indonesia.

Taniputera, Ivan. 2008. History of China. Jogjakarta. Ar-ruzz media.

Toer, Pramudya Ananta. 2008. Jalan Raya Pos, Jalan Daendels. Jakarta. Lentera Dipantara.

Tunas, Devisanthi. 2009. The Chinese Settlement of Bandung. Rijswijk. Papiroz.

Voskuil, RPGA. 1996. Bandoeng; Beeld van Een Stad. Purmerend. Asia Major.

Widodo, Yohannes. 1988. Chinese Settlement in a Changing City. Thesis, Katholieke Universiteit Leuven.

Delpher.nl

H.U. Kompas, 15 Agustus 2008. Jakarta.

http://djawatempodoeloe.multiply.com/photos

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *