@CikadutHeritage
Catatan: Nama yang digunakan di sini adalah Tan Joen Liong. Nama ini lebih umum digunakan dalam konteks sejarah populer Bandung walaupun nama yang tercatat dalam Regeerings Almanak voor Nederlandsch Indie adalah Tan Djoen Liong.
Setelah sebelumnya dikisahkan dua Letnan Tionghoa Bandung, Oeij Bouw Hoen (1881-1882), dan Tan Haij Long (1882-1888), kali ini adalah kisah tentang Letnan Tionghoa Bandung yang ketiga sekaligus yang terakhir, yaitu Tan Joen Liong (1888-1917). Dibanding dua Letnan Tionghoa sebelumnya, Tan Joen Liong relatif lebih dikenal oleh para peminat sejarah Kota Bandung, bahkan belakangan pernah diterbitkan sebuah buku berisi kumpulan surat bisnisnya dengan judul Merajut Relasi Bisnis; Surat-surat Tan Joen Liong Kapitein Tionghoa Bandung (Baswedan, 2017).
Dalam sejumlah kegiatan komunitas historical walking tour yang selama ini pernah diadakan di Bandung pun, nama Tan Joen Liong biasanya paling banyak disebut, begitu juga cerita latar belakang kesejarahan serta jejak-jejaknya di Bandung, biasanya menjadi materi yang lebih menonjol dibanding tokoh-tokoh Tionghoa lainnya.
Untuk bahan penceritaan, sebagai sumber dasar kami gunakan buku Jejak Budaya Komunitas Tionghoa di Bandung (Kustedja, 2018) sebagai pijakan. Untuk data-data lain, atau koreksi (bila ada), kami gunakan sumber-sumber dari koleksi arsip online di delpher.nl.
Sudah disampaikan sebelumnya bahwa Tan Joen Liong adalah salah satu putra dari Letnan Tionghoa Bandung kedua, Tan Haij Long, seorang totok yang datang dari Chailing (Jiaoling) di Provinsi Guangdong, Tiongkok. Anak-anaknya sudah lahir di Jiaoling sebelum ia datang ke Hindia Belanda, termasuk Tan Joen Liong.
Berdasarkan bongpai atau nisan pada makamnya di Cikadut, Tan Joen Liong dilahirkan tahun 1859. Soal tahun kelahiran ini ada upaya koreksi dari Baswedan (2017) dengan bersandar pada surat pengajuan polis asuransi ke Nederlandsch Indische Crediet en Bank vereeniging Batavia. Dalam suratnya ia menyebutkan detail berdasarkan almanak Tionghoa, yaitu tahun Kibi, bulan Kauw Gowe, tanggal 28 yang bila dikonversi ke penanggalan masehi didapatkan tanggal 3 November 1858.
Sebelum datang ke Hindia Belanda menyusul ayahnya, Tan Joen Liong sudah berkeluarga di negeri asalnya. Salah satu putranya, Tan Joek Tjong beserta istrinya, Soen Foeng Thin, juga menyusul ke Hindia Belanda. Di Bandung, Tan Joen Liong menikah lagi, mula-mula dengan Ong Kwi Nio, lalu dengan Liauw Tjoan Nio, dan terakhir dengan putri sulung Kapiten Tionghoa Cirebon The Han Tong yang bernama The Tjiauw Tjay. Setiap pernikahan ini dilakukan setelah istri sebelumnya meninggal dunia.
Tan Joen Liong dalam Pekerjaan Umum
Nama Tan Joen Liong mulai terberitakan di koran-koran lokal sejak tahun 1884 sebagai peserta berbagai lelang proyek pemerintah kolonial. Salah satunya adalah memenangkan lelang proyek penyiraman jalan dan pengumpulan sampah di Meester Cornelis (sekarang Jatinegara) sebagaimana diumumkan oleh Bataviaasch Handelsblad edisi 6 Agustus 1884.
Pada tahun 1887 ada beberapa proyek yang didapatkannya, semuanya di Batavia. Di antaranya untuk perbaikan Jembatan Ancol, dan yang sudah pernah disinggung sebelumnya, yaitu perbaikan segmen jembatan nomor 43 dan 46 di atas Kali Krokot dan perbaikan jembatan di atas pintu air kanal Gunung Sahari. Pada akhir bulan November 1887, De Locomotief memuat berita bahwa Tan Joen Liong bersama ayahnya, Tan Haij Long, menyatakan kesediaan menjadi penjamin serta membayar tunggakan sewa dan mengambil alih masa sewa permainan dadu Tionghoa di Tanahlapang, Glodok, Batavia, yang sebelumnya dijalankan oleh Lie Haij Sioe.
Telah diketahui bahwa pada akhir tahun 1887, Letnan Tionghoa Bandung Tan Haij Long mengajukan cuti selama enam bulan untuk pulang ke Tiongkok dan diperpanjang enam bulan lagi pada bulan Februari 1888. Setelah itu Tan Haij Long mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Letnan Tionghoa Bandung, dan pemerintah kolonial menunjuk putranya, Tan Joen Liong untuk menggantikannya. Dalam catatan Regeerings Almanak voor Nederlandsch Indie 1889 pengangkatan Tan Joen Liong adalah tanggal 18 Oktober 1888.
Tahun 1889 Bataviaasch Nieuwsblad edisi 20 Mei masih didapatkan berita kegiatan tender yang dimenangkan oleh Tan Joen Liong sebagai satu-satunya penawar, yaitu untuk renovasi jembatan lengkung Tjitjatik VII di afdeeling Sukabumi. Pada hari yang sama Java-bode mengabarkan kesertaan Tan Joen Liong dalam tender pengadaan beras di Bangka, namun kalah oleh pihak lain. Pada 13 Juni 1891 Bataviaasch Nieuwsblad memuat pengumuman penyelesaian utang-piutang, salah satunya adalah untuk mendiang Tan Haij Long yang diselesaikan oleh Tan Joen Liong. Pengumuman ini dimuat juga oleh sejumlah koran lain dalam periode yang sama. Tanggal 25 November 1897 Bataviaasch Nieuwsblad menurunkan berita bahwa Tan Joen Liong mendapatkan tugas sementara pengadaan bahan pelumas dan penerangan untuk layanan operasional jalur barat Kereta Api Negara (Westerlijnen Spoorwegen) di Jawa selama tahun 1898. Tendernya dilakukan di Bogor pada bulan itu juga.
Tan Joen Liong dalam Perkembangan Kota
De Preanger-bode edisi 13 April 1917 mengabarkan bahwa Letnan Tionghoa Tan Joen Liong bersama para pengusaha, Tan Joek Tjong, Tan Joen Fat, dan Tan Joen Siong, telah mendirikan sebuah perusahaan dagang (naamlooze vennotschap) di Bandung dengan nama Handel Mij. Hay Hap Liong Kie dengan tujuan mengakuisisi dan melanjutkan pengoperasian toko kelontong Asia, pabrik tapioka, dan pabrik penggilingan beras, serta segala sesuatu yang terkait dengannya berdasarkan penunjukan, penggabungan, atau interpretasi hukum, yang dioperasikan oleh Tan Joen Liong hingga akhir Desember lalu dengan nama dagang “Hay Hap Liong Kie,” serta pabrik tepung tapioka dan penggilingan beras yang juga dioperasikan olehnya. Dalam perusahaan dagang ini Tan Joen Liong diangkat sebagai Direktur Utama, Tan Joek Tjong sebagai Direktur, Tan Joen Fat dan Tan Joen Siong sebagai Direktur Pengawas.
Perusahaan Hay Hap Liong Kie ini kemungkinan yang disebut sudah berdiri sejak 22 November 1891 sebagaimana ditulis oleh Baswedan (2017: 3). Keterangan dalam Kustedja (2018: 50, 54) yang menyebutkan bahwa Hai Hap Liong Kie didirikan oleh Tan Haij Hap agak kurang meyakinkan bila benar tanggal pendiriannya sesuai yang ditulis oleh Baswedan, karena pada saat itu Tan Haij Long sudah wafat tiga tahun sebelumnya. Di luar masalah itu, produk tapioka merek “Banthong” dari Hay Hap Liong Kie ternyata sudah diekspor ke luar negeri sejak 1901 sebagai mana disampaikan oleh Baswedan (2017: 40-52) melalui pembacaan surat menyuratnya.

Foto di atas ini memperlihatkan bangunan pabrik penggilingan beras dan tapioka bermerek Banthong yang berlokasi di Cikudapateuh, yang dalam konteks kewilayahan sekarang, di Kosambi. Tergambar di sebelah bangunan ada potongan gerbong barang dan sebuah gardu kereta api yang menunjukkan pengangkutan barang dari pabrik ini menggunakan kereta api. Jalur angkutan kereta api ini bukanlah bagian dari jalur transportasi kereta api pemerintah, melainkan sebuah jalur tambahan yang diupayakan oleh Tan Joen Long pada akhir tahun 1911.
Dari laporan De Preanger-bode tanggal 23 November 1911 dapat dibaca bahwa Tan Joen Liong mengajukan petisi (izin) kepada pemerintah untuk membangun lintasan kereta api dari jalur utama yang menyeberangi Groote Postweg dan langsung menuju pabriknya. Jalur sampingan ini akan dibangun di atas tanah miliknya sendiri di Cikudapateuh. Seminggu kemudian, De Preanger-bode memberitakan bahwa petisi ini disetujui. Direktur Pekerjaan Umum memberikan syarat bahwa harus dibangun juga gerbang penghalang besi dan anggota Dewan Kota van Houten menyinggung soal instruksi agar operasional gerbang penghalang itu dapat berjalan cepat dan tidak mengganggu lalu lintas.
Empat tahun kemudian, seperti yang diberitakan oleh De Preanger-bode edisi 1 Oktober 1915, Pemerintah Kota berencana membangun jalur pintas dari Oosteinde (sekarang Jalan Sunda) ke Pasar Kosambi yang dapat dikembangkan untuk kawasan pertokoan lokal dan Tionghoa. Untuk keperluan ini pemerintah akan mengambil alih lahan milik Ny. Boes Lutjens yang tidak bersedia menjual tanahnya.
Sementara itu, Tan Joen Liong menyatakan kesediaan menyerahkan tanah miliknya di Cikudapateuh secara cuma-cuma untuk pembangunan jalan pintas tersebut dengan syarat ditanai pohon di sepanjang jalan dan diberi nama Tan Joeng Liong-straat (sekarang Jalan Baranangsiang). Bersamaan dengan ini Tan Joen Liong juga menyerahkan tanah miliknya yang lain secara cuma-cuma untuk pembangunan Waringinweg (sekarang Jalan Waringin).


Bangunan Banthong di Kosambi yang rusak setelah peristiwa Bandung Lautan Api. Koleksi arsip Komunitas Aleut.
Regeerings Almanak edisi tahun 1885 mencatat usaha penggilingan padi milik Tan Haij Long di Tjikawao. Pada tahun 1907 usaha dan lokasi yang sama sudah terdaftar atas nama Tan Joen Liong, artinya usaha tersebut merupakan lanjutan setelah ayahnya meninggal pada 1888. Belum dapat dipastikan di mana lokasi persis bekas penggilingan padi ini sekarang, namun sampai awal tahun 1920-an kawasan ini masih berupa kampung-kampung dikelilingi oleh persawahan dan hutan bambu. Satu-satunya kompleks bangunan permanen yang ada di daerah itu adalah di pertigaan antara Jalan Lengkong Besar dan Jalan Cikawao sekarang (lokasi sekitar Atmosphere Resort Cafe sekarang). Selain ditempati oleh Atmosphere, lahan lama di sini masih kosong melompong sampai sekarang.
Untuk penjualan dari hasil penggilingannya, dapat dilihat dari salah satu edisi koran De Preanger-bode bulan Maret 1898, di situ Tan Joen Liong memasang iklan “Toko Tan Joen Liong” yang menjual beras kualitas 1 sampai 3 dan kelapa parut kualitas 1 dan 2, dengan alamat di Tjitepoes dan nomor telepon 69. Iklan ini cukup sering muncul dalam edisi-edisi bulan lainnya.
Uit het Chineesche Kamp: Keberatan terhadap Tan Joen Liong
Keberadaan pabrik tapioka di Cikudapateuh yang terletak di luar kawasan Pecinan (Chineesenwijk) ini tidak selalu berjalan dengan mulus. Sebuah laporan dalam De Preanger-bode edisi 28 April 1909 dengan judul “Uit het Chineesche Kamp” (Dari Kampung Tionghoa) menyatakan bahwa peraturan yang mewajibkan warga Tionghoa tidak boleh keluar dari kawasannya mulai pukul 6 sore hingga 6 pagi sangat menguntungkan Letnan Tionghoa yang membuka pabrik di Cikudapateuh, di luar kawasan Tionghoa, sehingga para staf Tionghoa yang tinggal di sana dapat langsung membeli singkong dari penduduk lokal tanpa takut adanya persaingan. Menurutnya, banyak warga Tionghoa selama ini mempermasalahkan keadaan ini walaupun akhirnya aturan itu dicabut pada tahun 1908.
Tulisan ini juga membicarakan satu kasus spesifik sehubungan dengan pendirian sebuah sekolah oleh organisasi Tiong Hwa Hwee Kwan yang bertujuan untuk memajukan pendidikan anak-anak Tionghoa. Ketika seorang Inspektur Tionghoa datang mengunjungi sekolah tersebut, penulis merasa tiba-tiba saja peran Letnan Tionghoa terasa lebih menonjol dari sebelumnya, seakan-akan pendirian sekolah tersebut adalah hasil upayanya sendiri sehingga ia dianugrahi medali Mandarin Kelas-5 (Mandarijn der 5e Klasse) oleh Pemerintah Tionghoa (Tiongkok?). Mengenai hal ini perlu ditambahkan sebuah keterangan di sini, sumbernya dari Soerabaijasch Handelsblad edisi 17 Oktober 1906. Isinya tentang kunjungan koresponden koran tersebut ke sekolah Tiong Hoa Hwe Koan pada tanggal 14 Oktober dan menyebutkan bahwa sekolah itu didirikan tiga tahun sebelumnya atas inisiatif Wijkmeester Tjitepoes, Loa Boen Eng.
Belakangan, sekolah ini ternyata kurang berkembang, dan atas usulan Letnan Tionghoa yang menjadi pelindung organisasinya, pada tahun 1907 diselenggarakan program lotere yang disamarkan. Ada siasat yang dijalankan agar semua uang yang masuk terlihat sebagai sumbangan biasa saja dan bahwa untuk itu tidak ada tiket-tiket yang dijual. Sebagai ucapan terima kasih, diberikan hadiah kepada para donatur, padahal kenyataannya kegiatan tersebut adalah lotere yang diadakan tanpa izin. Tiket-tiket diundi oleh sekretaris organisasi sekolah. Kegiatan ini sempat menimbulkan minat pada orang-orang Tionghoa di Cianjur. Namun belakangan mereka berdiskusi dengan Asisten Residen Cianjur yang kemudian berkorespondensi dengan Residen Priangan dan selanjutnya menanyakannya langsung kepada Letnan Tionghoa. Namun Sang Letnan berpura-pura tidak tahu dan tidak menyadari keberadaan tiket-tiket tersebut sambil menjauhkan diri dari sorotan.
Satu hal lain yang sempat membuat heboh warga Tionghoa adalah surat edaran yang disusun oleh Letnan Tionghoa berkaitan dengan wafatnya Kaisar Tiongkok waktu itu. Isinya: Tidak boleh ada perayaan dan toko-toko harus ditutup. Tulisan untuk bagian ini cukup panjang dan memicu banyak pertanyaan mengenai asimilasi, identitas kebangsaan, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan hubungan warga Tionghoa dengan negeri asalnya dan dengan Hindia Belanda. Yang ingin membaca lebih lanjut dapat mencari koran tersebut di atas untuk membacanya.
Merangkap Tiga Jabatan
Sampai dekade awal abad ke-20 tidak banyak data Tan Joen Liong yang ditemukan dalam arsip koran delpher.nl. Regeerings Almanak voor Nederlandsch Indie secara teratur selalu memuat data nama dan jabatannya sebagai Letnan Tionghoa Bandung sejak 1889 sampai 1918. Pada edisi tahun 1909 namanya muncul dalam daftar anggota Dewan Daerah Keresidenan Priangan (Gewestelijke raad der Preanger-Regentschappen). Berita pengangkatannya diumumkan dalam koran De Preanger-bode edisi 17 Maret 1908 dengan pernyataan mulai berlaku tanggal 1 April 1908. Sebagai seorang Letnan Tionghoa, secara otomatis namanya juga terdaftar dalam birokrasi kolonial Gewestelijk Bestuur (Pemerintah Daerah) untuk Keresidenan Priangan.
Regeerings Almanak voor Nederlandsch Indie edisi tahun 1915 mencatat lagi nama Tan Joen Liong dalam peran baru, yaitu sebagai anggota Dewan Kota Bandung (Gemeenteraad van Bandoeng). Berita pengangkatannya dikabarkan dalam De Preanger-bode edisi 20 Oktober 1914. Setelah Tan Joen Liong meninggal, kedua jabatan di atas ini digantikan oleh menantunya, Tjen Djin Tjong, yang telah menikah dengan Tan Moy, putrinya dari Ong Kwi Nio. Khusus untuk Gemeenteraad van Bandoeng Tjen Djin Tjong yang sudah terdaftar lebih dulu (1914) digantikan oleh Tan Joen Liong untuk periode 1915-1918 dan selanjutnya dijabat kembali oleh Tjen Djin Tjong.
Hingga menjelang pendudukan Jepang, Tjen Djin Tjong terus aktif dalam pemerintahan keresiden dan Dewan Kota hingga menjadi wethouder (anggota Dewan Pemerintahan Kota atau Wakil Walikota untuk urusan tertentu, semacam Kepala Dinas sekarang). Perlu diterangkan pula bahwa Tjen Djin Tjong adalah putra Letnan Tionghoa di Distrik Blinyu, Bangka, Tjen Ton Long. Sejak 10 September 1913 Tjen Ton Long menjadi Kapiten Tionghoa Blinyu (afdeeling Bangka Utara) dan setelah wafat mendapatkan gelar tituler sebagai Mayor Tionghoa Bangka.
Tahun Terakhir Tan Joen Liong
Tahun 1917 merupakan tahun yang berat untuk Tan Joen Liong, berturut-turut ia mengundurkan diri dari berbagai jabatannya dalam pemerintahan. Mungkin sejak bulan Maret ia sudah menderita sakit sehingga pada pertengahan bulan itu ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai anggota Dewa Kota Bandung. Dilanjutkan dengan izin cuti domestik (tetap tinggal di Bandung) dari jabatannya sebagai Letnan Tionghoa Bandung karena alasan penting (sakit?) selama satu bulan terhitung dari tanggal 16 Maret 1917. Pengganti sementara untuk tugasnya sebagai Letnan Tionghoa Bandung diserahkan kepada Tan Njim Tjoy yang tetap menjalankan tugasnya semua sebagai wijkmeester Tjitepoes.
Ternyata sebulan kemudian, koran De Indier dan De Nieuwe Vorstenlanden memberitakan bahwa Tan Joen Liong telah mengajukan pengunduran diri dari jabatannya sebagai Letnan Tionghoa Bandung. Permohonan ini disetujui oleh pemerintah dan ia diberhentikan dengan hormat dari jabatannya, efektif sejak 16 April 1917. Pada tanggal 21 April 1917, koran De Preanger-bode memuat berita tentang pemberian pangkat kehormatan Kapitein kepada Tan Joen Liong yang sudah bertugas sebagai Letnan Tionghoa Bandung sejak tahun 1888.
Berikutnya, koran De Preanger-bode edisi 23 Juli 1917 memuat berita tentang akan dilaksanakannya pembangunan jembatan di Achterpasarstraat (sekarang Jalan Belakang Pasar) di atas Kali Cikakak, di belakang Bioskop Orion. Tan Joen Liong menyumbang dana sebesar 2000 gulden dengan permintaan agar namanya digunakan untuk jembatan itu (Tan Joen Liong-brug).

Berita pemberian pangkat kehormatan Kapiten untuk Tan Joen Liong. Cuplikan koran De Preanger-bode edisi 21 April 1917.
Tanggal 24 Agustus 1917 datanglah berita mengejutkan dari De Preanger-bode yang mengabarkan wafatnya Kapten Kehormatan Tionghoa Bandung, Tan Joen Liong kemarin sore, setelah menderita sakit yang cukup lama. Dalam narasinya disebutkan bahwa beliau bukan hanya tokoh terkenal di dunia bisnis sebagai pemilik pabrik tapioka dan penggilingan beras, tapi juga karena banyak kontribusinya di bidang lain, seperti kemajuan pendidikan, pengawas pembangunan, dan pelindung organisasi Tiong Hoa Hwee Koan. Tugas-tugasnya tersebar di semua komite publik dan selama bertahun-tahun menjadi anggota Dewan Daerah Priangan dan Dewan Kota Bandung. Ia banyak beramal, bahkan sering terjun langsung dalam pekerjaan praktis. Pembangunan Tan Joen Liong-brug di Cikakak sungguh layak dikenang. Setelah 28 tahun berdinas, beberapa bulan lalu ia mengajukan dan menerima surat pemberhentian terhormat dari pemerintah dan mendapatkan pangkat kehormatan sebagai Kapiten. Ia meninggal dunia dalam usia 59 tahun.



Tiga hari kemudian, De Preanger-bode memuat pengumuman yang mengabarkan bahwa Tan Joen Liong akan dimakamkan pada tanggal 7 September 1917. Keberangkatan dari rumah duka dijadwalkan pukul 08.00. Pengumuman ini dibuat atas nama Tan Joek Tjong, putra sulung Tan Joen Liong.
Menjelang akhir Desember 1917, De Preanger-bode menurunkan berita mengenai rapat Dewan Kota yang salah satunya membicarakan pengganti kekosongan Ketua Permakaman Tionghoa yang sebelumnya diisi oleh Tan Joen Liong. Lima hari kemudian diumumkan oleh koran yang sama yang posisi itu sekarang diisi oleh menantunya, Tjen Djin Tjong.
*****








