















Berikut ini daftar makam Tionghoa di TPU Cikadut per akhir tahun 2025. Klik pada pin untuk mendapatkan informasi terkait makam-makam tertentu.
Catatan: Belum semua makam memiliki informasi yang memadai.
Komunitas Aleut
Kompleks Makam Cikadut terletak di Kelurahan Jatihandap, Kecamatan Mandalajati Kota Bandung, saat ini mempunyai 6 orang karyawan. Terdiri dari Kepala TPU, Kepala Tata Usaha, Sekretaris dan 3 orang staf. Petugas lapangan dipegang oleh masyarakat setempat misalnya sebagai tukang gali kubur, bersih-bersih kubur, perawatan bangunan makam, dan sebagainya. Luas wilayah makam sekitar 52 hektar. 35 hektar dikelola oleh pemerintah Kota Bandung, sedangkan sisanya sekitar 17 hektar dimiliki oleh swasta dengan wilayah termasuk Kabupaten Bandung. Menurut informasi petugas lapangan dan masyarakat sekitar, tanah-tanah yang sudah dibeli secara pribadi dari masyarakat untuk dijadikan makam luasnya melebihi wilayah peruntukan makam yang resmi, sehingga kalau ditotal wilayah pemakaman di Cikadut ini mencapai sekitar 130 hektar..
Keseluruhan jumlah makam di TPU Cikadut ini hampir mencapai 20.000 makam. Makam yang dikelola oleh Kota Bandung dalam artian ada catatan administrasinya hanya sekitar 2000 makam saja. Kebanyakan makam berdiri di kapling milik pribadi (Suryani, 2018).
KUBURAN TIONGHOA CIKADUT
Paling tidak, sampai tahun 1985, nama kawasan permakaman Tionghoa di sebelah timur laut Kota Bandung ini dikenal dengan nama Kuburan Cina Cikadut. Kadang terdengar juga sebagian orang menyebutnya sebagai bong atau sentiong. Sampai sekitar tahun 1990-an, bila melakukan perjalanan melewati Jalan Raya Ujungberung (sekarang Jl. AH Nasution), masih dapat terlihat sebagian makam yang berada di ketinggian.
Pemandangan ini selalu menarik perhatian para pelintas dari kejauhan karena keberadaan makam-makam warna warni di atas perbukitan. Pemandangan kawasan makam ini terlihat lebih jelas lagi bila melintasi Jalan Jatihandap ke arah Jalan Sasakbatu atau dari Jalan Cicabe-Jatihandap Timur ke arah utara. Sudah lama pemandangan seperti ini hilang dari pengalaman karena maraknya pembangunan permukiman di sekeliling kawasan permakaman.

Berikut ini adalah placemarks yang sudah diterapkan pada makam dan lokasi tertentu di kawasan TPU Cikadut. Sebagian besar terletak di kawasan yang merupakan bagian dari wilayah administrasi Kota Bandung dan sebagian lainnya, terutama di sisi utara, merupakan bagian dari wilayah administrasi Kabupaten Bandung.
Sementara ini ada dua rute utama yang dapat dijalani:
Rute 1:
Dari Gerbang TPU Cikadut ke Makam Tan Joen Liong, lalu ke Makam Boen Soei Tjoe, kemudian menyeberang ke kompleks makam keluarga Boen. Makam Tan Joen Liong (1917) beserta istrinya, Ong Kwi Nio (1909), dan Makam Boen Soei Tjoe (1918) beserta istrinya, Tan Ten Njong (1919), termasuk ke dalam kelompok makam-makam tertua di Cikadut.
Dalam kompleks makam keluarga Boen yang letaknya terpisah oleh Jalan Cikadut terdapat banyak makam yang saling berkerabat. Makam utama dalam kompleks ini terdapat dalam bangunan indah bergaya arsitektur jengki yang sekarang sudah semakin langka.
Jarak antara makam Tan Joen Liong dan makam Boen Soei Tjoe tidak terlalu jauh hanya memerlukan perjalanan kaki kurang dari lima menit, namun untuk mengamati makam-makam dan lingkungan sekitarnya dengan lebih baik, dapat diperkirakan waktu yang dibutuhkan sekitar 60-90 menit.
Rute 2:
Dari Gerbang TPU Cikadut ke arah utara, melewati halaman parkir tempat terpajangnya Denah TPU Cikadut, lalu ke area makam di sekitarnya. Di area pertama ini masih ada beberapa makam lama, walaupun sudah mulai terkepung oleh makam-makam baru. Area ini dapat diusulkan sebagai bagian dari Situs Cagar Budaya Kota Bandung. Dari sini dapat menyusuri jalur jalan utama untuk mengikuti pin-pin yang sudah disusun pada peta panduan, atau dapat berjalan kaki langsung di area makam.
Banyaknya makam, serta tidak mudahnya jalur jalan bila melewati area dalam kompleks makam, membuat waktu tempuh agak lebih panjang. Luangkan waktu sekitar 2-3 jam untuk eksplorasi makam-makam yang ada dalam rute ini.
Untuk memilih tampilan rute bisa klik tombol di kiri atas di sebelah foto akun Cikadut Heritage. Klik tanda centang untuk mengaktifkan atau menonaktifkan rute tertentu.
Aditya Wijaya
Minggu, 18 Juni 2023, Komunitas Aleut mengadakan kegiatan Ngaleut Makam Cikadut. Salah satu lokasi yang dikunjungi dalam kegiatan ini adalah Makam Bersama Kiauwpau Madja. Dalam tulisan ini saya berusaha mencari informasi mengenai Makam Bersama Kiawpau Madja, walaupun ada berbagai keterbatasan, seperti minimnya sumber informasi yang saya dapat.

Makam Bersama Kiauwpau Madja
Panasnya matahari terasa sangat menusuk kulit saat Mang Asep seorang penggiat Aleut mulai menunjukkan jalan menuju sebuah makam berbentuk tugu berwarna putih. Letaknya di sebelah barat dari jalan utama permakaman Cikadut, terhalang puluhan makam lainnya.
Dari kejauhan, makam ini terlihat menonjol dibandingkan makam-makam lain di sekitarnya. Bentuk makam menjulang tinggi seperti tugu dengan sebuah lingkaran seperti bola di atasnya. Makam berwarna putih dan bersih seperti baru saja dicat, di halamannya berserakan bebatuan cukup besar. Terlihat beberapa tulisan beraksara Cina di makam, tentu saja tidak dapat saya baca, kecuali tulisan Latin: Makam Bersama Kiauwpau Madja, 1.12.1952 oleh Hua Chiao Lien Ho Hui.
Tak lama saya mengamati makam ini, karena Mang Asep mulai bercerita kisah di balik makam ini. Seluruh peserta Ngaleut saat itu tampak serius mendengarkan cerita Mang Asep. Makam ini merupakan makam bersama para korban pada Masa Bersiap di Madja, ujar Mang Asep. Madja berlokasi sekitar 50 km ke arah selatan dari Cirebon, jalan menuju Majalengka atau Talaga. Madja berada dekat dengan kaki Gunung Ciremai. Sebenarnya saya sedikit kaget saat mengetahui Madja karena lokasi ini pernah saya datangi, saya juga menginap semalam di Madja ketika hendak mendaki gunung beberapa tahun lalu.
Mang Asep enggan untuk mengisahkan peristiwa tersebut dengan kata pembantaian, seraya menggerakkan kedua jarinya. Saya mengartikan itu sebagai gesture sama-sama tau lah ya. Ia kemudian bercerita lebih lanjut, peristiwa itu terjadi pada tahun 1947. Makam bersama Madja baru dibuat tahun 1952 oleh Hua Chiao Lien Ho Hui keterangannya dapat di lihat pada tembok makam, jadi selama tenggang waktu tersebut jenazah korban dikumpulkan dan disatukan kemudian dimakamkan bersama-sama.
Tidak terlalu banyak yang Mang Asep ceritakan, hanya saja ia menuturkan bahwa ada seorang penggiat Aleut yang tinggal di sekitar Madja dan mengetahui kisah peristiwa ini. Kemudian ia bercerita kepadanya bahwa lokasi makamnya ada di Cikadut. Setelah mendengar Mang Asep bercerita, timbul hasrat dalam hati saya untuk mencari tahu lebih banyak tentang peristiwa ini.
Continue reading