Kuburan Tionghoa Cikadut, Riwayatmu Kini

Komunitas Aleut

Kompleks Makam Cikadut terletak di Kelurahan Jatihandap, Kecamatan Mandalajati Kota Bandung, saat ini mempunyai 6 orang karyawan. Terdiri dari Kepala TPU, Kepala Tata Usaha, Sekretaris dan 3 orang staf. Petugas lapangan dipegang oleh masyarakat setempat misalnya sebagai tukang gali kubur, bersih-bersih kubur, perawatan bangunan makam, dan sebagainya. Luas wilayah makam sekitar 52 hektar. 35 hektar dikelola oleh pemerintah Kota Bandung, sedangkan sisanya sekitar 17 hektar dimiliki oleh swasta dengan wilayah termasuk Kabupaten Bandung. Menurut informasi petugas lapangan dan masyarakat sekitar, tanah-tanah yang sudah dibeli secara pribadi dari masyarakat untuk dijadikan makam luasnya melebihi wilayah peruntukan makam yang resmi, sehingga kalau ditotal wilayah pemakaman di Cikadut ini mencapai sekitar 130 hektar..

Keseluruhan jumlah makam di TPU Cikadut ini hampir mencapai 20.000 makam. Makam yang dikelola oleh Kota Bandung dalam artian ada catatan administrasinya hanya sekitar 2000 makam saja. Kebanyakan makam berdiri di kapling milik pribadi (Suryani, 2018).

KUBURAN TIONGHOA CIKADUT

Paling tidak, sampai tahun 1985, nama kawasan permakaman Tionghoa di sebelah timur laut Kota Bandung ini dikenal dengan nama Kuburan Cina Cikadut. Kadang terdengar juga sebagian orang menyebutnya sebagai bong atau sentiong. Sampai sekitar tahun 1990-an, bila melakukan perjalanan melewati Jalan Raya Ujungberung (sekarang Jl. AH Nasution), masih dapat terlihat sebagian makam yang berada di ketinggian.

Pemandangan ini selalu menarik perhatian para pelintas dari kejauhan karena keberadaan makam-makam warna warni di atas perbukitan. Pemandangan kawasan makam ini terlihat lebih jelas lagi bila melintasi Jalan Jatihandap ke arah Jalan Sasakbatu atau dari Jalan Cicabe-Jatihandap Timur ke arah utara. Sudah lama pemandangan seperti ini hilang dari pengalaman karena maraknya pembangunan permukiman di sekeliling kawasan permakaman.

Salah satu sudut TPU Cikadut saat ini. Google street view, 2024.

Sejak awal berdiri pada pertengahan tahun 2000-an, Komunitas Aleut sudah cukup sering melakukan perjalanan di kawasan Permakaman Tionghoa di Cikadut. Kompleks makam ini menjadi salah satu perhatian kami, salah satunya, adalah karena perbedaan budaya yang sangat jelas terlihat pada bentuk-bentuk makamnya, apalagi lokasinya yang agak jauh dari pusat kota, serta kontur tanahnya yang berbukit-bukit. Dari banyak sudut, cukup mudah menyaksikan pemandangan Kota Bandung dari ketinggian di daerah Cikadut.

Salah satu tujuan yang menjadi perhatian dari kompleks Permakaman Tionghoa Cikadut adalah keberadaan makam salah satu Letnan Tionghoa Bandung, yaitu Tan Joen Liong. Beliau adalah Letnan Tionghoa ketiga sekaligus yang terakhir untuk wilayah Bandung. Setelah meninggal dimakamkan di Cikadut dalam satu bangunan bercungkup bergaya arsitektur campuran yang didominasi oleh nuansa Eropa. Dalam bangunan yang sama, juga terdapat makam istrinya, Ong Kwi Nio. Tan Joen Liong wafat pada 28 Agustus 1917, sementara istrinya meninggal lebih dulu, yaitu pada 13 Desember 1909.

Continue reading →

Walking Tour TPU Cikadut

Berikut ini adalah placemarks yang sudah diterapkan pada makam dan lokasi tertentu di kawasan TPU Cikadut. Sebagian besar terletak di kawasan yang merupakan bagian dari wilayah administrasi Kota Bandung dan sebagian lainnya, terutama di sisi utara, merupakan bagian dari wilayah administrasi Kabupaten Bandung.

Sementara ini ada dua rute utama yang dapat dijalani:

Rute 1:

Dari Gerbang TPU Cikadut ke Makam Tan Joen Liong, lalu ke Makam Boen Soei Tjoe, kemudian menyeberang ke kompleks makam keluarga Boen. Makam Tan Joen Liong (1917) beserta istrinya, Ong Kwi Nio (1909), dan Makam Boen Soei Tjoe (1918) beserta istrinya, Tan Ten Njong (1919), termasuk ke dalam kelompok makam-makam tertua di Cikadut.

Dalam kompleks makam keluarga Boen yang letaknya terpisah oleh Jalan Cikadut terdapat banyak makam yang saling berkerabat. Makam utama dalam kompleks ini terdapat dalam bangunan indah bergaya arsitektur jengki yang sekarang sudah semakin langka.

Jarak antara makam Tan Joen Liong dan makam Boen Soei Tjoe tidak terlalu jauh hanya memerlukan perjalanan kaki kurang dari lima menit, namun untuk mengamati makam-makam dan lingkungan sekitarnya dengan lebih baik, dapat diperkirakan waktu yang dibutuhkan sekitar 60-90 menit.

Rute 2:

Dari Gerbang TPU Cikadut ke arah utara, melewati halaman parkir tempat terpajangnya Denah TPU Cikadut, lalu ke area makam di sekitarnya. Di area pertama ini masih ada beberapa makam lama, walaupun sudah mulai terkepung oleh makam-makam baru. Area ini dapat diusulkan sebagai bagian dari Situs Cagar Budaya Kota Bandung. Dari sini dapat menyusuri jalur jalan utama untuk mengikuti pin-pin yang sudah disusun pada peta panduan, atau dapat berjalan kaki langsung di area makam.

Banyaknya makam, serta tidak mudahnya jalur jalan bila melewati area dalam kompleks makam, membuat waktu tempuh agak lebih panjang. Luangkan waktu sekitar 2-3 jam untuk eksplorasi makam-makam yang ada dalam rute ini.

Untuk memilih tampilan rute bisa klik tombol di kiri atas di sebelah foto akun Cikadut Heritage. Klik tanda centang untuk mengaktifkan atau menonaktifkan rute tertentu.