Tugu Makam Bersama Kiauwpau Madja

Aditya Wijaya

Minggu, 18 Juni 2023, Komunitas Aleut mengadakan kegiatan Ngaleut Makam Cikadut. Salah satu lokasi yang dikunjungi dalam kegiatan ini adalah Makam Bersama Kiauwpau Madja. Dalam tulisan ini saya berusaha mencari informasi mengenai Makam Bersama Kiawpau Madja, walaupun ada berbagai keterbatasan, seperti minimnya sumber informasi yang saya dapat.

Makam Bersama Kiauwpau Madja di Cikadut (Deuis Raniarti)

Makam Bersama Kiauwpau Madja

Panasnya matahari terasa sangat menusuk kulit saat Mang Asep seorang penggiat Aleut mulai menunjukkan jalan menuju sebuah makam berbentuk tugu berwarna putih. Letaknya di sebelah barat dari jalan utama permakaman Cikadut, terhalang puluhan makam lainnya.

Dari kejauhan, makam ini terlihat menonjol dibandingkan makam-makam lain di sekitarnya. Bentuk makam menjulang tinggi seperti tugu dengan sebuah lingkaran seperti bola di atasnya. Makam berwarna putih dan bersih seperti baru saja dicat, di halamannya berserakan bebatuan cukup besar. Terlihat beberapa tulisan beraksara Cina di makam, tentu saja tidak dapat saya baca, kecuali tulisan Latin: Makam Bersama Kiauwpau Madja, 1.12.1952 oleh Hua Chiao Lien Ho Hui.

Tak lama saya mengamati makam ini, karena Mang Asep mulai bercerita kisah di balik makam ini.  Seluruh peserta Ngaleut saat itu tampak serius mendengarkan cerita Mang Asep. Makam ini merupakan makam bersama para korban pada Masa Bersiap di Madja, ujar Mang Asep. Madja berlokasi sekitar 50 km ke arah selatan dari Cirebon, jalan menuju Majalengka atau Talaga. Madja berada dekat dengan kaki Gunung Ciremai. Sebenarnya saya sedikit kaget saat mengetahui Madja karena lokasi ini pernah saya datangi, saya juga menginap semalam di Madja ketika hendak mendaki gunung beberapa tahun lalu. 

Mang Asep enggan untuk mengisahkan peristiwa tersebut dengan kata pembantaian, seraya menggerakkan kedua jarinya. Saya mengartikan itu sebagai gesture sama-sama tau lah ya. Ia kemudian bercerita lebih lanjut, peristiwa itu terjadi pada tahun 1947. Makam bersama Madja baru dibuat tahun 1952 oleh Hua Chiao Lien Ho Hui keterangannya dapat di lihat pada tembok makam, jadi selama tenggang waktu tersebut jenazah korban dikumpulkan dan disatukan kemudian dimakamkan bersama-sama. 

Tidak terlalu banyak yang Mang Asep ceritakan, hanya saja ia menuturkan bahwa ada seorang penggiat Aleut yang tinggal di sekitar Madja dan mengetahui kisah peristiwa ini. Kemudian ia bercerita kepadanya bahwa lokasi makamnya ada di Cikadut. Setelah mendengar Mang Asep bercerita, timbul hasrat dalam hati saya untuk mencari tahu lebih banyak tentang peristiwa ini.

Memorandum Outlining Acts of Violence and Inhumanity Perpetrated by Indonesian Bands on Innocent Chinese Before and After the Dutch Police Action was Enforced on July 21, 1947

Buku Memorandum (Sugiri Kustedja)

Sulit sekali menemukan data-data mengenai makam bersama Madja, hanya terdapat beberapa tulisan, itupun tulisannya Komunitas Aleut dalam rangka Ngaleut Makam Cikadut beberapa tahun lalu.

Saya menemukan sebuah buku memorandum di internet yang menjelaskan tindak kekerasan dan ketidakmanusiawian yang dilakukan oleh Indonesian Bands kepada Tionghoa yang tidak bersalah sebelum dan sesudah Aksi Polisionil Belanda, 21 Juli 1947.

Dalam buku memorandum tersebut terdapat keterangan yang menjelaskan apa yang terjadi terhadap orang Tionghoa yang tinggal di berbagai daerah di Indonesia, salah satunya mereka yang tinggal di Madja. Keterangan mengenai Madja dijelaskan sebagai berikut:  Penduduk Tionghoa di Madja berjumlah 189. Penduduk Tionghoa di tempat ini menghilang sejak 30 Juli 1947. Dilaporkan bahwa mereka dipaksa untuk mengungsi oleh tentara Indonesia.

Ekspedisi militer yang dikirim dari Madjalengka pada 16 Agustus 1947 untuk mencari mereka, kembali dengan tangan hampa, dan tidak ada rincian pula mengenai lokasi tinggal para penduduk Tionghoa tersebut. Desa-desa Paniis dan Soekasari di atas Madja telah dicapai, tetapi tampaknya ditinggalkan oleh penduduk Indonesia saat pasukan Belanda tiba.

Dua orang Indonesia yang tersisa mengatakan bahwa kemungkinan penduduk Tionghoa dapat ditemukan di desa Tjiboeloeh yang mudah diakses dari Talaga. Namun, kondisi alam yang bergunung-gunung menjadi halangan bagi ekspedisi bermotor.

Novel Tjikadoet Karya Ong Ping Lok

Novel Tjikadoet karya Ong Ping Lok (Perpustakaan Nasional)

Selain buku memorandum yang ditulis Chung Hua Tsung Hui, saya juga membaca novel Tjikadoet karya Ong Ping Lok. Novel Tjikadoet berkisah mengenai seorang perempuan bernama Swie Nio yang ditinggal meninggal suaminya yaitu Tjin Gie yang dimakamkan di Cikadut.

Alkisah ternyata yang dimakamkan tersebut bukanlah jasad suaminya. Tjin Gie masihlah hidup. Ia diculik oleh Pasukan Bamboe Roentjing dan dibawa ke Telaga dekat Kuningan (lokasinya masih sekitaran Madja). Tjin Gie hendak dieksekusi mati di sana, tetapi beruntung nyawa Tjin Gie dapat diselamatkan oleh salah satu tokoh dalam novel tersebut.

Novel Tjikadoet menarik untuk dibaca karena mengisahkan awal revolusi kemerdekaan yang terjadi di Bandung, kehidupan masyarakat Tionghoa. dan tentunya ada sedikit informasi mengenai Madja di dalamnya.

Informasi mengenai Madja dapat kita temui dalam bagian ketika seorang tentara bernama Sahertian yang menjadi algojo dan ingin sekali mengeksekusi mati para Pasukan Bamboe Roentjing. Sahertian sangat dendam kepada pasukan Bamboe Roentjing, karena 3 saudaranya telah dibunuh. Sahertian saat itu bertempat tinggal di Madja.

Dari informasi tersebut dapat kita bayangkan apa yang sebenarnya terjadi di Madja pada saat itu.

Hua Chiao Lien Ho Hui

(Buku Telepon Bandung 1950)

Saya penasaran dengan siapa yang menginisiasi Makam Bersama Kiauwpau Madja. Dalam buku telepon Bandung tahun 1950 Vereniging Hua Chiao Lien Ho Hui, terdapat sebuah keterangan Begrafenisfonds en Verschillende Afdelingen atau dalam Bahasa Indonesianya, dana pemakaman dan berbagai departemen. Asosiasi ini dahulu berlokasi di Jl. Kebondjati No. 66.

Berita kematian (Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode 24-01-1957)

Saya juga mencari di berbagai koran lama. Salah satu informasi yang saya dapatkan ada di koran Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode yang memuat mengenai berita duka dan terdapat keterangan pengurus perkumpulan mati Hua Chiao Lien Ho Hui.

Dengan mendapatkan informasi tersebut saya berkesimpulan bahwa Hua Chiao Lien Ho Hui merupakan asosiasi untuk masalah pemakaman warga Tionghoa pada saat itu.

Makam Bersama Tionghoa Lainnya

Ternyata Makam Bersama Tionghoa tidak hanya ada di Cikadut. Dalam sebuah katalog pameran berjudul The Chronicles of Resilience karya FX Harsono terdapat informasi bahwa ada beberapa makam bersama yang tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Makam-makam bersama ini terjadi dalam periode Masa Bersiap pada tahun 1947-1949.

(The Chronicles of Resilience by FX Harsono)

(The Chronicles of Resilience by FX Harsono)

(The Chronicles of Resilience by FX Harsono)

(The Chronicles of Resilience by FX Harsono)

Hanya sesedikit ini saja informasi yang dapat saya tuliskan, anggap saja sebagai bahan awal untuk dilanjutkan lagi kelak. Bila ada rekan-rekan yang mungkin punya cerita lain atau dapat menambahkan informasi ini, mungkin dapat berbagi melalui kolom komentar. Terima kasih dan salam. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *