Jo Soen Bie; Kedermawan Tanpa Batas

@CikadutHeritage

Dahulu di sebelah selatan Pasar Baru, ada sebuah nama jalan yang menggunakan nama Tionghoa, Jo Soen Bie-straat. Jalan ini pendek, melintang dari Jl Tamim (dari dulu namanya sama) di sebelah barat sampai Jl. Oto Iskandar Dinata (dulu Pasar Baroeweg) di sebelah timur. Sekarang nama jalan Jo Soen Bie sudah tidak ada lagi, entah sejak kapan nama ini berganti menjadi Jl. Mayor Sunarya.


Nama Jo Soen Bie tercatat dalam buku Prominent Indonesian Chinese susunan Leo Suryadinata dengan sedikit perbedaan ejaan: Yo Soen Bie. Sementara dala buku Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia (Sam Setyadarma) menulisnya Jo Soen Bie, walaupun sumber informasi yang digunakannya berasal dari buku Prominent. Di sini, namanya akan selalu Jo Soen Bie, kecuali ada catatan yang menyertainya. Kedua buku itu sangat sedikit memuat informasi mengenai Soen Bie dan seringkali tanpa disertai keterangan waktu yang jelas. Namun dari sebuah database Provinsi Fujian saya mendapatkan informasi yang lebih kaya, dan sumber inilah yang paling banyak saya gunakan di sini.


Jo Soen Bie lahir tahun 1877 di Desa Yuandong, Kota Fotan, Kabupaten Zhangpu, Provinsi Fujian. Ia berasal dari keluarga miskin dan hanya sempat menempuh pendidikan selama dua tahun. Pada tahun 1890 saat usianya 14 tahun, ia merantau ke Tanah Jawa seorang diri dengan tujuan mereklamasi lahan tandus.


Tiba di Bandung, ia mulai bekerja magang di sebuah toko dengan upah kecil. Bekerja keras dan hidup hemat membuatnya memiliki sedikit tabungan. Ditambah dengan dana bantuan dari pamannya, Yang Wenchuan, ia memikul kain dan menjadi pedagang keliling ke daerah miskin dan terpencil. Tahun berikutnya, masih dengan bantuan pamannya ia dapat membuka toko di Jalan Bandar (Banceuy?) dan tidak lama kemudian mendapatkan kemajuan dan keuntungan.


Tahun 1895 ia menikah dengan Chen Zhuniang, putri kedua Chen Yangli. Mertuanya mendukung usahanya untuk membuka toko obat tradisional Tionghoa “Ping An Tang” di Bandung. Dalam beberapa tahun kehidupan ekonominya menjadi sangat baik, bahkan dapat menanam modal untuk perusahaan Xin Yi Cheng Co., di Pasar Baru, yang khusus bergerak di bidang benang dan kain katun.


Saat berlangsungnya Perang Dunia I, Ia mendapatkan keuntungan besar dari perusahaan-perusahaannya, baik kain atau pun tapioka, dan membuatnya melesat sebagai pengusaha besar. Namanya tercatat dalam Colonial Business Indonesia (1916-1920) sebagai direktur Sin Gie Seng Cultuur en Handel. Di Bandung ia mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang penggilingan singkong ini pada tahun 1916. Ia juga mengambil alih sebuah pabrik sagu milik seorang Belanda di Manamong (Malangbong?) dan memperluasnya. Ia mendirikan pabrik tekstil di Bandung dan membuat jalan yang menyandang namanya seperti dapat dilihat dalam peta Kaart van Bandoeng terbitan N.V. Boekhandel Visser & Co., 1926.


Tapi pada masa perang itu pula, Belanda membebankan pajak besar (pajak Bacher) kepada koloninya untuk menutupi kerugian perang. Pajak besar yang dijalankan dengan keras ini membuat Jo Soen Bie menyerah. Ia menyerahkan perusahaan kepada putra sulungnya, lalu kembali ke kampung halamannya untuk mencari peruntungan lain.


Di Tiongkok ia bersimpati terhadap perjuangan Dr. Sun Yat Sen dan bergabung dengan aliansi revolusi Tiongkok, Tongmenghui. Di sini ia memimpin komunitas, melakukan penggalangan dana untuk perjuangan, sambil tetap memberikan sumbangan uang pribadi sampai beberapa tahun kemudian. Setelah revolusi Xinhain dan Yuan Shikai merebut kekuasaan, Sun Yat Sen pergi ke Jepang dan di sana mengorganisir Partai Revolusioner Tiongkok. Sebagian pendanaan kelompok ini didapatkan dari kiriman Jo Soen Bie. Begitu pula setelah Sun Yat Sen kembali ke Guangzhou pada tahun 1917 dan menjadi Marsekal Agung, terjadi kesulitan keuangan yang cukup parah untuk melaksanakan Ekspedisi Utara, Jo Soen Bie menyumbangkan dana yang cukup besar dalam dua kali kesempatan.


Tahun 1919 Jo Soen Bie juga mengirimkan dana untuk perjuangan Sun Yat Sen. Surat menyurat antara Sun Yat Sen dan Jo Soen Bie ini sekarang dipamerkan dalam Museum Sejarah Nasional Tiongkok di Nanjing. Komite Penghargaan Jasa Pemerintah Nasionalis menganugerahinya Medali Emas Warga Tionghoa Perantau Patriotik (Kelas Satu) dan sebuah sertifikat, serta menunjuknya sebagai penasihat Komisi Urusan Tionghoa Perantau.


Tahun 1920 Jo Soen Bie mengadakan perjalanan bisnis ke Shanghai dan menyiapkan waktu khusus untuk bertemu Sun Yat Sen di Guangdong. Tahun 1925, Jo Soen Bie kembali mengunjungi Tiongkok dan mendirikan Peternakan Baizhuhu. Pada tahun 1926, setelah Tentara Revolusioner Nasional memasuki Fujian, Komite Persiapan Cabang Fujian Kuomintang memintanya untuk menjadi anggota Komite Persiapan Cabang Kabupaten Zhangpu. Tahun 1927 Jo Soen Bie kembali ke Hindia Belanda dan terpilih menjadi Presiden Asosiasi Umum Tionghoa.


Tahun 1934 Jo Soen Bie kembali ke Tiongkok dengan membawa uang dalam jumlah yang sangat besar untuk mendirika Sekolah Menengah Chunmei di kota Fotan, Kabupaten Zhangpu, Provinsi Fujian. Masalah pendidikan dan kemiskinan selalu menyentuh hati Jo Soen Bie dan karena itu ia tidak pernah segan memberikan banyak bantuan untuk berbagai perjuangan yang dapat melepaskan manusia dari dua kondisi tersebut. Ia mereklamasi dua lahan pasang surut dan mengembangkan Peternakan Danau Baizhu yang didirikannya pada tahun 1925 menjadi lahan sekolah.


Tahun 1935 nama dan ringkasan riwayatnya termuat dalam buku Orang-orang Tionghoa jang Terkemoeka di Java. Dalam koran-koran Hindia Belanda terbitan antara 1936-1940 namanya sering muncul dalam bentuk iklan untuk Sin Gie Seng atau Jo Soen Bie dan Toko Hindia dengan alamat di Pasar Baroe 82.


Pada tanggal 7 September 1936 Sekolah Menengah Chunmei diresmikan pembukaannya dan Jo Soen Bie berpidato di hadapan seratusan guru dan siswa, termasuk kepala sekolah pertama, Li Kerou, yang sebelumnya mengajar di Sekolah Menengah Provinsi Xiamen:
“Pendidikan adalah fondasi suatu bangsa. Saya sendiri pernah menderita buta huruf, dan ketika berada di luar negeri, saya sangat hemat, selalu berpikir untuk melakukan sesuatu untuk negara dan kampung halaman saya. Itulah sebabnya saya mendirikan Sekolah Menengah Chunmei. Saya berharap semua guru dan siswa akan bergabung dengan saya dalam tujuan mulia ini dan menjalankan sekolah dengan baik; saya berharap siswa akan belajar dengan tekun dan membalas budi tanah air dengan prestasi akademik yang luar biasa…”


Pada tahun 1937 ketika pecah perang perlawanan terhadap Jepang. Jo Soen Bie terlibat aktif mengumpulkan dana perjuangan. Ketika Jepang masuk Asia Tenggara pada tahun 1941 dan berhasil menjatuhkan Bandung, Jo Soen Bie dan putranya ditangkap militer Jepang, dimasukkan interniran dan baru bebas ketika Jepang menyerah terhadap tentara Sekutu pada tahun 1945.


Pada tahun 1948 Jo Soen Bie dan putra sulungnya kembali ke Tiongkok dan ke sekolah yang didirikannya. Mereka membangun sebuah gedung baru dengan nama Gedung Yushu berdasarkan nama putra sulungnya tersebut.


Berbagai upaya Jo Soen Bie dalam mendukung perjuangan revolusi berjalan berbarengan dengan dunia bisnisnya. Dan dari sanalah ia mendapatkan uang yang sebagian digunakannya untuk membantu perjuangan. Ketika kembali ke kampung halamannya usai Perang Dunia I, ia membeli beberapa bangunan yang dijadikannya pertokoan, di antaranya Toko Sutra dan Kain Xiamen Heping. Ia menanam modal untuk Pabrik Saus Zhaohe, Perusahaan Lampu Listrik Gulangyu Zhonghua, dan Perusahaan Otomotif Zhanghou Zhangsong.


Tahun 1926 ia mendirikan Perusahaan Jalan Raya Otomotif yang dikelola secara bersama oleh penduduk desa Chen Zhaoxin, Lan Quijin, dan Lan Changze, di bawah pengawasan Kabupaten Zhangpu. Tahun 1929 ia juga membangun jalan dari Fotan ke Jiuzhen dan dari Chengguan ke Xiangyazhuang. Tahun 1931 nama Perusahaan Jalan Raya Otomotif berganti nama menjadi Perusahaan Otomotif yang Dikelola Pedagang Tionghoa Perantauan.


Apa yang sudah diceritakan di sini mengenai berbagai kegiatan Jo Soen Bie sebenarnya masih sangat sedikit karena belum menceritakan berbagai bantuan yang diberikannya dalam hal kebencanaan dan pengentasan kemiskinan terutama di sekitar kampung halamannya. Di Bandung, kedermawanannya juga tidak kurang. Ia ikut mendanai pembangunan rumah sakit, panti jompo, panti asuhan, dan berbagai lembaga sosial lainnya.


Jo Soen Bie sering disebut sebagai seorang teladan yang luar biasa bagi warga Tionghoa Perantauan. Ia wafat di Bandung pada tanggal 14 Juli 1968 dalam usia 93 tahun. Di ranjang kematiannya ia masih membuat surat wasiat yang menyatakan keinginannya untuk mendirikan “Dana Pendidikan Chunmei.” ***


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *