Tan Joen Liong, Letnan Tionghoa Bandung Terakhir (1888-1917)

@CikadutHeritage

Catatan: Nama yang digunakan di sini adalah Tan Joen Liong. Nama ini lebih umum digunakan dalam konteks sejarah populer Bandung walaupun nama yang tercatat dalam Regeerings Almanak voor Nederlandsch Indie adalah Tan Djoen Liong.

Setelah sebelumnya dikisahkan dua Letnan Tionghoa Bandung, Oeij Bouw Hoen (1881-1882), dan Tan Haij Long (1882-1888), kali ini adalah kisah tentang Letnan Tionghoa Bandung yang ketiga sekaligus yang terakhir, yaitu Tan Joen Liong (1888-1917). Dibanding dua Letnan Tionghoa sebelumnya, Tan Joen Liong relatif lebih dikenal oleh para peminat sejarah Kota Bandung, bahkan belakangan pernah diterbitkan sebuah buku berisi kumpulan surat bisnisnya dengan judul Merajut Relasi Bisnis; Surat-surat Tan Joen Liong Kapitein Tionghoa Bandung (Baswedan, 2017).

Dalam sejumlah kegiatan komunitas historical walking tour yang selama ini pernah diadakan di Bandung pun, nama Tan Joen Liong biasanya paling banyak disebut, begitu juga cerita latar belakang kesejarahan serta jejak-jejaknya di Bandung, biasanya menjadi materi yang lebih menonjol dibanding tokoh-tokoh Tionghoa lainnya.

Untuk bahan penceritaan, sebagai sumber dasar kami gunakan buku Jejak Budaya Komunitas Tionghoa di Bandung (Kustedja, 2018) sebagai pijakan. Untuk data-data lain, atau koreksi (bila ada), kami gunakan sumber-sumber dari koleksi arsip online di delpher.nl.

Sudah disampaikan sebelumnya bahwa Tan Joen Liong adalah salah satu putra dari Letnan Tionghoa Bandung kedua, Tan Haij Long, seorang totok yang datang dari Chailing (Jiaoling) di Provinsi Guangdong, Tiongkok. Anak-anaknya sudah lahir di Jiaoling sebelum ia datang ke Hindia Belanda, termasuk Tan Joen Liong.

Berdasarkan bongpai atau nisan pada makamnya di Cikadut, Tan Joen Liong dilahirkan tahun 1859. Soal tahun kelahiran ini ada upaya koreksi dari Baswedan (2017) dengan bersandar pada surat pengajuan polis asuransi ke Nederlandsch Indische Crediet en Bank vereeniging Batavia. Dalam suratnya ia menyebutkan detail berdasarkan almanak Tionghoa, yaitu tahun Kibi, bulan Kauw Gowe, tanggal 28 yang bila dikonversi ke penanggalan masehi didapatkan tanggal 3 November 1858.

Sebelum datang ke Hindia Belanda menyusul ayahnya, Tan Joen Liong sudah berkeluarga di negeri asalnya. Salah satu putranya, Tan Joek Tjong beserta istrinya, Soen Foeng Thin, juga menyusul ke Hindia Belanda. Di Bandung, Tan Joen Liong menikah lagi, mula-mula dengan Ong Kwi Nio, lalu dengan Liauw Tjoan Nio, dan terakhir dengan putri sulung Kapiten Tionghoa Cirebon The Han Tong yang bernama The Tjiauw Tjay. Setiap pernikahan ini dilakukan setelah istri sebelumnya meninggal dunia.

Tan Joen Liong dalam Pekerjaan Umum

Nama Tan Joen Liong mulai terberitakan di koran-koran lokal sejak tahun 1884 sebagai peserta berbagai lelang proyek pemerintah kolonial. Salah satunya adalah memenangkan lelang proyek penyiraman jalan dan pengumpulan sampah di Meester Cornelis (sekarang Jatinegara) sebagaimana diumumkan oleh Bataviaasch Handelsblad edisi 6 Agustus 1884.

Pada tahun 1887 ada beberapa proyek yang didapatkannya, semuanya di Batavia. Di antaranya untuk perbaikan Jembatan Ancol, dan yang sudah pernah disinggung sebelumnya, yaitu perbaikan segmen jembatan nomor 43 dan 46 di atas Kali Krokot dan perbaikan jembatan di atas pintu air kanal Gunung Sahari. Pada akhir bulan November 1887, De Locomotief memuat berita bahwa Tan Joen Liong bersama ayahnya, Tan Haij Long, menyatakan kesediaan menjadi penjamin serta membayar tunggakan sewa dan mengambil alih masa sewa permainan dadu Tionghoa di Tanahlapang, Glodok, Batavia, yang sebelumnya dijalankan oleh Lie Haij Sioe.

Telah diketahui bahwa pada akhir tahun 1887, Letnan Tionghoa Bandung Tan Haij Long mengajukan cuti selama enam bulan untuk pulang ke Tiongkok dan diperpanjang enam bulan lagi pada bulan Februari 1888. Setelah itu Tan Haij Long mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Letnan Tionghoa Bandung, dan pemerintah kolonial menunjuk putranya, Tan Joen Liong untuk menggantikannya. Dalam catatan Regeerings Almanak voor Nederlandsch Indie 1889 pengangkatan Tan Joen Liong adalah tanggal 18 Oktober 1888.

Tahun 1889 Bataviaasch Nieuwsblad edisi 20 Mei masih didapatkan berita kegiatan tender yang dimenangkan oleh Tan Joen Liong sebagai satu-satunya penawar, yaitu untuk renovasi jembatan lengkung Tjitjatik VII di afdeeling Sukabumi. Pada hari yang sama Java-bode mengabarkan kesertaan Tan Joen Liong dalam tender pengadaan beras di Bangka, namun kalah oleh pihak lain. Pada 13 Juni 1891 Bataviaasch Nieuwsblad memuat pengumuman penyelesaian utang-piutang, salah satunya adalah untuk mendiang Tan Haij Long yang diselesaikan oleh Tan Joen Liong. Pengumuman ini dimuat juga oleh sejumlah koran lain dalam periode yang sama. Tanggal 25 November 1897 Bataviaasch Nieuwsblad menurunkan berita bahwa Tan Joen Liong mendapatkan tugas sementara pengadaan bahan pelumas dan penerangan untuk layanan operasional jalur barat Kereta Api Negara (Westerlijnen Spoorwegen) di Jawa selama tahun 1898. Tendernya dilakukan di Bogor pada bulan itu juga.

Tan Joen Liong dalam Perkembangan Kota

De Preanger-bode edisi 13 April 1917 mengabarkan bahwa Letnan Tionghoa Tan Joen Liong bersama para pengusaha, Tan Joek Tjong, Tan Joen Fat, dan Tan Joen Siong, telah mendirikan sebuah perusahaan dagang (naamlooze vennotschap) di Bandung dengan nama Handel Mij. Hay Hap Liong Kie dengan tujuan mengakuisisi dan melanjutkan pengoperasian toko kelontong Asia, pabrik tapioka, dan pabrik penggilingan beras, serta segala sesuatu yang terkait dengannya berdasarkan penunjukan, penggabungan, atau interpretasi hukum, yang dioperasikan oleh Tan Joen Liong hingga akhir Desember lalu dengan nama dagang “Hay Hap Liong Kie,” serta pabrik tepung tapioka dan penggilingan beras yang juga dioperasikan olehnya. Dalam perusahaan dagang ini Tan Joen Liong diangkat sebagai Direktur Utama, Tan Joek Tjong sebagai Direktur, Tan Joen Fat dan Tan Joen Siong sebagai Direktur Pengawas.

Perusahaan Hay Hap Liong Kie ini kemungkinan yang disebut sudah berdiri sejak 22 November 1891 sebagaimana ditulis oleh Baswedan (2017: 3). Keterangan dalam Kustedja (2018: 50, 54) yang menyebutkan bahwa Hai Hap Liong Kie didirikan oleh Tan Haij Hap agak kurang meyakinkan bila benar tanggal pendiriannya sesuai yang ditulis oleh Baswedan, karena pada saat itu Tan Haij Long sudah wafat tiga tahun sebelumnya. Di luar masalah itu, produk tapioka merek “Banthong” dari Hay Hap Liong Kie ternyata sudah diekspor ke luar negeri sejak 1901 sebagai mana disampaikan oleh Baswedan (2017: 40-52) melalui pembacaan surat menyuratnya.

Pabrik Tapioka dan penggilingan beras Hai Hap Liong Kie yang didirikan oleh Tan Haij Hap di daerah Cikudapateuh Kosambi Bandung (Kustedja, 2018). Sumber foto: Li Lian Tjen.

Foto di atas ini memperlihatkan bangunan pabrik penggilingan beras dan tapioka bermerek Banthong yang berlokasi di Cikudapateuh, yang dalam konteks kewilayahan sekarang, di Kosambi. Tergambar di sebelah bangunan ada potongan gerbong barang dan sebuah gardu kereta api yang menunjukkan pengangkutan barang dari pabrik ini menggunakan kereta api. Jalur angkutan kereta api ini bukanlah bagian dari jalur transportasi kereta api pemerintah, melainkan sebuah jalur tambahan yang diupayakan oleh Tan Joen Long pada akhir tahun 1911.

Dari laporan De Preanger-bode tanggal 23 November 1911 dapat dibaca bahwa Tan Joen Liong mengajukan petisi (izin) kepada pemerintah untuk membangun lintasan kereta api dari jalur utama yang menyeberangi Groote Postweg dan langsung menuju pabriknya. Jalur sampingan ini akan dibangun di atas tanah miliknya sendiri di Cikudapateuh. Seminggu kemudian, De Preanger-bode memberitakan bahwa petisi ini disetujui. Direktur Pekerjaan Umum memberikan syarat bahwa harus dibangun juga gerbang penghalang besi dan anggota Dewan Kota van Houten menyinggung soal instruksi agar operasional gerbang penghalang itu dapat berjalan cepat dan tidak mengganggu lalu lintas.

Empat tahun kemudian, seperti yang diberitakan oleh De Preanger-bode edisi 1 Oktober 1915, Pemerintah Kota berencana membangun jalur pintas dari Oosteinde (sekarang Jalan Sunda) ke Pasar Kosambi yang dapat dikembangkan untuk kawasan pertokoan lokal dan Tionghoa. Untuk keperluan ini pemerintah akan mengambil alih lahan milik Ny. Boes Lutjens yang tidak bersedia menjual tanahnya.

Sementara itu, Tan Joen Liong menyatakan kesediaan menyerahkan tanah miliknya di Cikudapateuh secara cuma-cuma untuk pembangunan jalan pintas tersebut dengan syarat ditanai pohon di sepanjang jalan dan diberi nama Tan Joeng Liong-straat (sekarang Jalan Baranangsiang). Bersamaan dengan ini Tan Joen Liong juga menyerahkan tanah miliknya yang lain secara cuma-cuma untuk pembangunan Waringinweg (sekarang Jalan Waringin).

Pabrik tapioka dan penggilingan beras Hai Hap Liong Kie dengan nama “Banthong” yang diduga terletak di sisi selatan Groote Postweg sekitar Pasar Kosambi sekarang (Kustedja, 2018). Sumber foto: Jimmy Gani Tjandrajana.

Bangunan Banthong di Kosambi yang rusak setelah peristiwa Bandung Lautan Api. Koleksi arsip Komunitas Aleut.

Regeerings Almanak edisi tahun 1885 mencatat usaha penggilingan padi milik Tan Haij Long di Tjikawao. Pada tahun 1907 usaha dan lokasi yang sama sudah terdaftar atas nama Tan Joen Liong, artinya usaha tersebut merupakan lanjutan setelah ayahnya meninggal pada 1888. Belum dapat dipastikan di mana lokasi persis bekas penggilingan padi ini sekarang, namun sampai awal tahun 1920-an kawasan ini masih berupa kampung-kampung dikelilingi oleh persawahan dan hutan bambu. Satu-satunya kompleks bangunan permanen yang ada di daerah itu adalah di pertigaan antara Jalan Lengkong Besar dan Jalan Cikawao sekarang (lokasi sekitar Atmosphere Resort Cafe sekarang). Selain ditempati oleh Atmosphere, lahan lama di sini masih kosong melompong sampai sekarang.

Untuk penjualan dari hasil penggilingannya, dapat dilihat dari salah satu edisi koran De Preanger-bode bulan Maret 1898, di situ Tan Joen Liong memasang iklan “Toko Tan Joen Liong” yang menjual beras kualitas 1 sampai 3 dan kelapa parut kualitas 1 dan 2, dengan alamat di Tjitepoes dan nomor telepon 69. Iklan ini cukup sering muncul dalam edisi-edisi bulan lainnya.

Uit het Chineesche Kamp: Keberatan terhadap Tan Joen Liong

Keberadaan pabrik tapioka di Cikudapateuh yang terletak di luar kawasan Pecinan (Chineesenwijk) ini tidak selalu berjalan dengan mulus. Sebuah laporan dalam De Preanger-bode edisi 28 April 1909 dengan judul “Uit het Chineesche Kamp” (Dari Kampung Tionghoa) menyatakan bahwa peraturan yang mewajibkan warga Tionghoa tidak boleh keluar dari kawasannya mulai pukul 6 sore hingga 6 pagi sangat menguntungkan Letnan Tionghoa yang membuka pabrik di Cikudapateuh, di luar kawasan Tionghoa, sehingga para staf Tionghoa yang tinggal di sana dapat langsung membeli singkong dari penduduk lokal tanpa takut adanya persaingan. Menurutnya, banyak warga Tionghoa selama ini mempermasalahkan keadaan ini walaupun akhirnya aturan itu dicabut pada tahun 1908.

Tulisan ini juga membicarakan satu kasus spesifik sehubungan dengan pendirian sebuah sekolah oleh organisasi Tiong Hwa Hwee Kwan yang bertujuan untuk memajukan pendidikan anak-anak Tionghoa. Ketika seorang Inspektur Tionghoa datang mengunjungi sekolah tersebut, penulis merasa tiba-tiba saja peran Letnan Tionghoa terasa lebih menonjol dari sebelumnya, seakan-akan pendirian sekolah tersebut adalah hasil upayanya sendiri sehingga ia dianugrahi medali Mandarin Kelas-5 (Mandarijn der 5e Klasse) oleh Pemerintah Tionghoa (Tiongkok?). Mengenai hal ini perlu ditambahkan sebuah keterangan di sini, sumbernya dari Soerabaijasch Handelsblad edisi 17 Oktober 1906. Isinya tentang kunjungan koresponden koran tersebut ke sekolah Tiong Hoa Hwe Koan pada tanggal 14 Oktober dan menyebutkan bahwa sekolah itu didirikan tiga tahun sebelumnya atas inisiatif Wijkmeester Tjitepoes, Loa Boen Eng.

Belakangan, sekolah ini ternyata kurang berkembang, dan atas usulan Letnan Tionghoa yang menjadi pelindung organisasinya, pada tahun 1907 diselenggarakan program lotere yang disamarkan. Ada siasat yang dijalankan agar semua uang yang masuk terlihat sebagai sumbangan biasa saja dan bahwa untuk itu tidak ada tiket-tiket yang dijual. Sebagai ucapan terima kasih, diberikan hadiah kepada para donatur, padahal kenyataannya kegiatan tersebut adalah lotere yang diadakan tanpa izin. Tiket-tiket diundi oleh sekretaris organisasi sekolah. Kegiatan ini sempat menimbulkan minat pada orang-orang Tionghoa di Cianjur. Namun belakangan mereka berdiskusi dengan Asisten Residen Cianjur yang kemudian berkorespondensi dengan Residen Priangan dan selanjutnya menanyakannya langsung kepada Letnan Tionghoa. Namun Sang Letnan berpura-pura tidak tahu dan tidak menyadari keberadaan tiket-tiket tersebut sambil menjauhkan diri dari sorotan.

Satu hal lain yang sempat membuat heboh warga Tionghoa adalah surat edaran yang disusun oleh Letnan Tionghoa berkaitan dengan wafatnya Kaisar Tiongkok waktu itu. Isinya: Tidak boleh ada perayaan dan toko-toko harus ditutup. Tulisan untuk bagian ini cukup panjang dan memicu banyak pertanyaan mengenai asimilasi, identitas kebangsaan, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan hubungan warga Tionghoa dengan negeri asalnya dan dengan Hindia Belanda. Yang ingin membaca lebih lanjut dapat mencari koran tersebut di atas untuk membacanya.

Merangkap Tiga Jabatan

Sampai dekade awal abad ke-20 tidak banyak data Tan Joen Liong yang ditemukan dalam arsip koran delpher.nl. Regeerings Almanak voor Nederlandsch Indie secara teratur selalu memuat data nama dan jabatannya sebagai Letnan Tionghoa Bandung sejak 1889 sampai 1918. Pada edisi tahun 1909 namanya muncul dalam daftar anggota Dewan Daerah Keresidenan Priangan (Gewestelijke raad der Preanger-Regentschappen). Berita pengangkatannya diumumkan dalam koran De Preanger-bode edisi 17 Maret 1908 dengan pernyataan mulai berlaku tanggal 1 April 1908. Sebagai seorang Letnan Tionghoa, secara otomatis namanya juga terdaftar dalam birokrasi kolonial Gewestelijk Bestuur (Pemerintah Daerah) untuk Keresidenan Priangan.

Regeerings Almanak voor Nederlandsch Indie edisi tahun 1915 mencatat lagi nama Tan Joen Liong dalam peran baru, yaitu sebagai anggota Dewan Kota Bandung (Gemeenteraad van Bandoeng). Berita pengangkatannya dikabarkan dalam De Preanger-bode edisi 20 Oktober 1914. Setelah Tan Joen Liong meninggal, kedua jabatan di atas ini digantikan oleh menantunya, Tjen Djin Tjong, yang telah menikah dengan Tan Moy, putrinya dari Ong Kwi Nio. Khusus untuk Gemeenteraad van Bandoeng Tjen Djin Tjong yang sudah terdaftar lebih dulu (1914) digantikan oleh Tan Joen Liong untuk periode 1915-1918 dan selanjutnya dijabat kembali oleh Tjen Djin Tjong.

Hingga menjelang pendudukan Jepang, Tjen Djin Tjong terus aktif dalam pemerintahan keresiden dan Dewan Kota hingga menjadi wethouder (anggota Dewan Pemerintahan Kota atau Wakil Walikota untuk urusan tertentu, semacam Kepala Dinas sekarang). Perlu diterangkan pula bahwa Tjen Djin Tjong adalah putra Letnan Tionghoa di Distrik Blinyu, Bangka, Tjen Ton Long. Sejak 10 September 1913 Tjen Ton Long menjadi Kapiten Tionghoa Blinyu (afdeeling Bangka Utara) dan setelah wafat mendapatkan gelar tituler sebagai Mayor Tionghoa Bangka.

Tahun Terakhir Tan Joen Liong

Tahun 1917 merupakan tahun yang berat untuk Tan Joen Liong, berturut-turut ia mengundurkan diri dari berbagai jabatannya dalam pemerintahan. Mungkin sejak bulan Maret ia sudah menderita sakit sehingga pada pertengahan bulan itu ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai anggota Dewa Kota Bandung. Dilanjutkan dengan izin cuti domestik (tetap tinggal di Bandung) dari jabatannya sebagai Letnan Tionghoa Bandung karena alasan penting (sakit?) selama satu bulan terhitung dari tanggal 16 Maret 1917. Pengganti sementara untuk tugasnya sebagai Letnan Tionghoa Bandung diserahkan kepada Tan Njim Tjoy yang tetap menjalankan tugasnya semua sebagai wijkmeester Tjitepoes.

Ternyata sebulan kemudian, koran De Indier dan De Nieuwe Vorstenlanden memberitakan bahwa Tan Joen Liong telah mengajukan pengunduran diri dari jabatannya sebagai Letnan Tionghoa Bandung. Permohonan ini disetujui oleh pemerintah dan ia diberhentikan dengan hormat dari jabatannya, efektif sejak 16 April 1917. Pada tanggal 21 April 1917, koran De Preanger-bode memuat berita tentang pemberian pangkat kehormatan Kapitein kepada Tan Joen Liong yang sudah bertugas sebagai Letnan Tionghoa Bandung sejak tahun 1888.

Berikutnya, koran De Preanger-bode edisi 23 Juli 1917 memuat berita tentang akan dilaksanakannya pembangunan jembatan di Achterpasarstraat (sekarang Jalan Belakang Pasar) di atas Kali Cikakak, di belakang Bioskop Orion. Tan Joen Liong menyumbang dana sebesar 2000 gulden dengan permintaan agar namanya digunakan untuk jembatan itu (Tan Joen Liong-brug).

Berita pemberian pangkat kehormatan Kapiten untuk Tan Joen Liong. Cuplikan koran De Preanger-bode edisi 21 April 1917.

Tanggal 24 Agustus 1917 datanglah berita mengejutkan dari De Preanger-bode yang mengabarkan wafatnya Kapten Kehormatan Tionghoa Bandung, Tan Joen Liong kemarin sore, setelah menderita sakit yang cukup lama. Dalam narasinya disebutkan bahwa beliau bukan hanya tokoh terkenal di dunia bisnis sebagai pemilik pabrik tapioka dan penggilingan beras, tapi juga karena banyak kontribusinya di bidang lain, seperti kemajuan pendidikan, pengawas pembangunan, dan pelindung organisasi Tiong Hoa Hwee Koan. Tugas-tugasnya tersebar di semua komite publik dan selama bertahun-tahun menjadi anggota Dewan Daerah Priangan dan Dewan Kota Bandung. Ia banyak beramal, bahkan sering terjun langsung dalam pekerjaan praktis. Pembangunan Tan Joen Liong-brug di Cikakak sungguh layak dikenang. Setelah 28 tahun berdinas, beberapa bulan lalu ia mengajukan dan menerima surat pemberhentian terhormat dari pemerintah dan mendapatkan pangkat kehormatan sebagai Kapiten. Ia meninggal dunia dalam usia 59 tahun.

Arak-arakan yang berjalan kaki dari Citepus mengiringi jenazah Kapitein Kehormatan Tan Joen Liong untuk dimakamkan di Cikadut pada tanggal 7 September 1917. Koleksi foto dari Li Lian Tjen yang dimuat dalam Sugiri (2018: 61).
Makam Tan Joen Liong dan Ong Kwi Nio, Cikadut (1917). Koleksi foto dari Li Lian Tjen yang dimuat dalam Sugiri (2018: 61).
Makam Tan Joen Liong dan Ong Kwi Nio, Cikadut (2024). Koleksi foto Komunitas Aleut.

Tiga hari kemudian, De Preanger-bode memuat pengumuman yang mengabarkan bahwa Tan Joen Liong akan dimakamkan pada tanggal 7 September 1917. Keberangkatan dari rumah duka dijadwalkan pukul 08.00. Pengumuman ini dibuat atas nama Tan Joek Tjong, putra sulung Tan Joen Liong.

Menjelang akhir Desember 1917, De Preanger-bode menurunkan berita mengenai rapat Dewan Kota yang salah satunya membicarakan pengganti kekosongan Ketua Permakaman Tionghoa yang sebelumnya diisi oleh Tan Joen Liong. Lima hari kemudian diumumkan oleh koran yang sama yang posisi itu sekarang diisi oleh menantunya, Tjen Djin Tjong.

*****

Tan Haij Long, Letnan Tionghoa Bandung Kedua

@CikadutHeritage

Dalam tulisan sebelumnya sudah diceritakan mengenai latar belakang pembentukan kampung-kampung Tionghoa atau Pecinan yang awalnya merupakan bagian dari kebijakan pengaturan permukiman atau Wijkenstelsel yang sudah dilakukan sejak zaman VOC. Pengaturan permukiman kemudian mendorong lahirnya pemimpin-pemimpin wijk yang secara hirarkis terdiri dari wijkmeester, Letnan Tionghoa, Kapten Tionghoa, sampai Mayor Tionghoa yang hanya ada di beberapa kota besar saja.

Pada bagian akhir yang khusus membicarakan Kota Bandung, muncul Letnan Tionghoa pertama, Oeij Bouw Hoen, yang diumumkan penunjukannya pada 2 Maret 1881 dan dilantik pada 18 Juni 1881. Namun pada awal tahun 1882 ia menderita sakit dan akhirnya wafat pada 20 Januari 1882. Dengan demikian, Oeij menjalankan masa jabatannya kurang dari satu tahun saja.

Pelantikan Tan Haij Long

Kira-kira satu bulan setelah wafatnya Oeij Bouw Hoen, Java-bode edisi 4 Maret 1882 memuat pengumuman pengangkatan seorang wijkmeester dan pedagang kaya yang cukup penting di Bandung, Tan Haij Long, sebagai Letnan Tionghoa Bandung menggantikan Oeij Bouw Hoen. Nama dan tanggal pengangkatannya pada 2 Maret 1882 terdaftar dalam Regeerings-almanaak sejak tahun 1883.

Bataviaasch Handelsblad edisi 5 Mei 1882 memberitakan pelantikannya yang dilaksanakan oleh Asisten Residen Priangan dan berlangsung di Pendopo Kabupaten Bandung pada 22 April 1882. Acara pelantikan ini dihadiri oleh Residen Priangan J.M. van Vleuten, Asisten Residen Bandung, Bupati Bandung, Patih Bandung, para pejabat kolonial dan kabupaten, serta tokoh-tokoh penting lainnya di Bandung.

De installatie van den nieuwen titulairs, den Luitenant der Chineezen Tan Haij Long, had plaats op 22 April en werd met groote luister gevierd.

Pelantikan pejabat baru, Letnan Tionghoa Tan Haij Long, berlangsung pada tanggal 22 April dan dirayakan dengan sangat meriah

Malam harinya, Tan Haij Long menyelenggarakan sebuah pesta meriah di rumahnya dengan mengundang para penari tandak (tandakspartij) untuk menari sepanjang malam. Ada sekitar seratus undangan yang hadir. Malam berikutnya, ia menggelar pesta dansa di gedung perkumpulan Societeit Concordia dengan undangan para tokoh dari golongan Eropa. Ruangan Societeit Concordia diberi dekorasi mahal dan sangat indah. Malam itu menjadi lebih meriah berkat kehadiran kelompok musik Terzetto Italia, dan Bandung yang biasanya sunyi menjadi terasa lebih hangat malam itu. Pesta pun berlangsung hingga dini hari.

Berita penunjukan Tan Haij Long sebagai Letnan Tionghoa Bandung dalam Java-bode 4 Maret 1882. Delpher.nl.

Latar Belakang Pemilihan Tan Haij Long sebagai Letnan Tionghoa Bandung

Koran De Locomotief edisi 17 Juli 1929 memberikan keterangan singkat tentang Tan Haij Long dalam artikelnya tentang ulang tahun Societeit concordia ke-50: Pada masa itu, Bandung memiliki seorang kontraktor bangunan Tionghoa bernama Tan Haij Long yang juga seorang kepala distrik (wijkmeester). Ia sangat ingin menjadi Letnan Tionghoa Bandung dan Residen Priangan saat itu, J. M. van Vleuten (1870-1884) menawarkan jabatan tersebut bila Haij Long bersedia menghadiahkan sebuah bangunan batu (tembok) beserta aulanya untuk Kota Bandung. Kisah ini berlangsung pada tahun 1880.

Setelah wafatnya Letnan Tionghoa pertama Oeij Bouw Hoen, sebenarnya komunitas peranakan Tionghoa di Bandung sudah mengajukan nama Oeij Boen Hoeij, putra sulungnya, untuk menggantikan jabatan mendiang ayahnya sebagai Letnan Tionghoa Bandung. Cerita ini termuat dalam buku Jejak Budaya Komunitas Tionghoa di Bandung (Sugiri Kustedja, 2018). Namun bisa jadi apa yang dikisahkan oleh koran De Locomotief di atas yang membuat pemerintah kolonial memilih Tan Haij Long untuk menjabat sebagai Letnan Tionghoa Bandung yang kedua.

Tiga tahun setelah penawaran Residen Priangan kepada Tan Haij Long tersebut, pada 17 Agustus 1883, Gedung Braga yang dibangun oleh Tan Haij Long diresmikan penggunaannya. Perkumpulan Braga (Toneelvereeniging Braga) yang sudah ada sejak 1882 menyewanya dengan harga 100 gulden per bulan. Perkumpulan diberi hak untuk menyewakan kembali gedung tersebut sesuai dengan keperluannya. Selain Toneelvereeniging Braga, saat itu juga ada kelompok musik Tarzetto Italia. Walaupun sudah hadir dari tahun 1882, namun status hukum Toneelvereeniging Braga baru diresmikan pada tanggal 28 Mei 1883 sesuai dengan yang tercantum dalam Staatsblad 1883 No.152. Bersamaan dengan itu, jalan pedati atau Pedatiweg di depannya, mulai disebut sebagai Bragaweg.

Status hukum Toneelvereeniging Braga dalam Staatsblad 1883 No.152. Delpher.nl.

Beberapa Pekerjaan Pembangunan

Regeerings-almanaak edisi tahun 1885 mencatat bahwa Tan Haij Long memiliki penggilingan padi di Tjikawao. Usaha ini kelak dilanjutkan oleh putranya Tan Joen Liong. Sebagian kiprah Tan Haij Long sebagai seorang pengusaha masih dapat dilacak dalam arsip koran-koran lama di delpher.nl, di antaranya pada bulan Oktober 1886 mendapatkan tender untuk transportasi pengangkutan kopi, garam, dan biji coklat, di Priangan untuk periode 1887-1893. Pada awal tahun berikutnya, ia juga mendapatkan proyek perbaikan segmen jembatan di atas Kali Krokot di Rijswijk, Batavia, berdasarkan sebuah tender yang diadakan oleh Biro Pengelolaan Air (Waterstaatsbureau).

Pada saat yang sama, menantunya, Tan Joen Liong juga memenangkan dua tender untuk perbaikan segmen jembatan Krokot nomor 43 dan 46 di gang Ketapang dekat markas Kavaleri dan perbaikan jembatan di atas pintu air kanal Gunung Sahari. Pengumuman hasil tender ini dipublikasikan dalam koran Bataviaasch Nieuwsblad edisi 28 Februari 1887. Tepat sebulan berikutnya, De Nieuwe Vorstenlanden edisi 28 Maret 1887 memuat berita hasil tender untuk perbaikan jembatan di atas Gunung Sahari oleh Wortelboer, seorang pedagang di Bandung, dengan jaminan dari Tan Haij Long dan Boen Soei Tjoe.

Cuti ke Tiongkok

Setelah sekitar dua setengah tahun menjabat sebagai Letnan Tionghoa Bandung, pada bulan Oktober 1884 ia mengajukan cuti enam bulan untuk pulang ke Tiongkok. Pengumumannya dimuat dalam Java-bode edisi 11 Oktober 1884. Kemudian, menjelang akhir tahun 1887, saat ia sedang sangat aktif dengan berbagai pekerjaan berdasarkan tender, ia mengajukan cuti selama enam bulan untuk kembali pulang ke Tiongkok karena urusan keluarga yang mendesak. Ia mendapatkan izin dengan keterangan bahwa jabatannya tetap berlaku dan namun tanpa membebani negara.

Seperti yang diumumkan oleh Bataviaasch Nieuwsblad edisi 21 September 1887, izin cuti mulai berlaku dari tanggal 20 September 1887. Pada awal tahun berikutnya, seperti dikabarkan oleh koran Bataviaasch Nieuwsblad edisi 29 Februari 1888, ternyata Tan Haij Long mengajukan perpanjangan cuti selama enam bulan lagi.

Kabar selanjutnya didapatkan dari Bataviaasch Nieuwsblad edisi 20 Oktober 1888 yang memuat pengumuman dari Bestuur over Vreemde Oosterlingen, yaitu bahwa Tan Haij Long diberhentikan atas permintaan sendiri (mengundurkan diri) dari jabatannya sebagai Letnan Tionghoa Bandung dan sebagai penggantinya telah ditunjuk putranya, juga seorang pedagang, bernama Tan Joen Liong, menjadi Letnan Tionghoa Bandung ketiga. Regeerings Almanak voor Nederlandsch Indie 1889 mencatat pengangkatan Tan Joen (Djoen) Liong pada tanggal 18 Oktober 1888.

Informasi berikutnya baru didapatkan dari arsip yang dimuat dalam halaman daftar silsilah Tan Haij Long di geni.com, di antaranya dari sebuah dokumen tulisan tangan yang menyebutkan bahwa Tan Haij Long telah meninggal pada 1 Desember 1888 di Koen Tjoe, China. Dengan demikian, berakhirlah masa kepemimpinan Letnan Tionghoa Bandung kedua.

Pada tahun 1891 dalam sebuah pengumuman dalam koran Bataviaasch Nieuwsblad edisi 27 Juni 1891, disebutkan bahwa Tan Joen Liong, putra Tan Haij Long yang saat itu menjabat sebagai Letnan Tionghoa Bandung ketiga telah menyelesaikan utang-piutang mendiang ayahnya.

Setelah Tan Haij Long Tiada

Pada tahun 1893 Gedung Braga dijual oleh ahli waris Tan Haij Long dan dibeli oleh perkumpulan Societeit Concordia dan sejak saat itu Toneelvereeniging Braga wajib membayar sewa kepada Societeit Concordia. Berita pelelangan Gedung Braga ini sebenarnya sudah dipublikasikan dalam Java-bode edisi 6 Februari 1892: Ditawarkan sebidang tanah di Kampung Kejaksan yang di atasnya berdiri Gedung Komedi (comediegebouw) Braga, sebidang tanah di Kampung Andir – di kawasan Pecinan – yang di atasnya terletak sebuah kuil Tionghoa, dan sebidang tanah di Citepus yang di atasnya terdapat sebuah rumah Tionghoa besar dengan bangunan tambahan. Semua bidang tanah ini masih terdaftar atas nama mendiang Tan Haij Long.

Lahan di Citepus milik Tan Haij Long yang dilelang di atas tampaknya bukanlah satu-satunya, karena di De Preanger-bode edisi 24 Juli 1909 muncul lagi lelang beberapa lahan atas nama Tan Haij Long yang diiklankan oleh Maclaine Pont. Lahan-lahan tersebut adalah dua bidang tanah di Pecinan Pancoran, Batavia, sebidang tanah di Kampung Lio (Lijo) di Bandung yang di atasnya terdapat rumah kayu dan kandang kuda, dan bidang tanah di Citepus yang di atasnya terdapat rumah dengan atap genting.

Kiri: Pembelian Gedung Braga oleh Soieteit Concordia dalam De Preanger-bode 12 Februari 1922. Kanan: Berita pelelangan beberapa bidang tanah milik Tan Haij Long (Java-bode 6 Februari 1892). Delpher.nl.

Klenteng Xie Tian Gong

Sugiri Kustedja (2017) mencatat bahwa Tan Haij Long, yang dalam lingkungan keluarga dikenal dengan nama Tan Haij Hap (= Chen Hai Long = Chen Hai She), adalah seorang dari suku Hakka yang berasal dari Chailing (Jiaoling), Guangdong, Tiongkok. Tidak tercatat kapan ia tiba di Hindia Belanda atau Bandung. Di Bandung, namanya sering dikaitkan sebagai pemrakarsa pendirian klenteng Sheng Di Miao (Klenteng Kaisar Suci) pada tahun 1885. Nama klenteng ini kemudian berubah menjadi yang lebih banyak dikenal, Xie Tian Gong (= Hiap Thian Kiong = Istana Pembantu Penguasa Langit atau Alam Semesta). Klenteng ini masih berdiri hingga saat ini di Jalan Klenteng.

Sebagai salah seorang pendiri, penyumbang, dan pembangun Klenteng pertama di Kota Bandung, nama Tan Haij Hap (=Tan Haij Long) tercatat dalam prasasti pendirian dengan angka tahun 1885 yang masih menempel di dinding Klenteng Xie Tian Gong sampai sekarang. Beberapa nama lain yang ikut tercatat pada prasasti itu antara lain, Letnan Tionghoa Cianjur Oeij Seng Kiat, Kapiten Tionghoa Cirebon Zheng Yi Yuan, dan wijkmeester Oeij Boen Liong. Secara keseluruhan terdapat 85 nama penyumbang dana, 39 di antaranya adalah warga Kota Bandung.

Belum ditemukan berita-berita koran sezaman yang cukup meyakinkan mengenai proses pembangunan Klenteng ini. Sementara ini hanya ada satu catatan perjalanan saja yang dimuat di koran Bataviaasch Nieuwsblad 24 Agustus 1887 yang sedikit memberikan informasi, yaitu bahwa klenteng atau yang dalam artikel disebut sebagai Chineesche Tempel (Kuil Tionghoa) baru diresmikan pada tahun 1886. Diceritakan bahwa kuil ini dibangun dan berada dalam perawatan yang baik oleh Letnan Tionghoa Bandung. Seperti umumnya kuil Tionghoa, kuil ini pun menggunakan atap khas Tionghoa. Ruangannya dihiasi oleh beberapa naga yang menyeringai.

Chinese tempel (klenteng) te Bandoeng KITLV-11856 1920. Album aangeboden aan de burgemeester van Bandoeng, B. Coops, bij zijn vertrek naar Europa. Augustus 1920.
Foto 1 dan 2: Prasasti 1885 saat klenteng masih bernama Sheng Di Miao. Foto 2: Ukiran nama Tan Haij Hap. Foto 3: Lukisan Tan Haij Long (Tan Haij Hap) dari album Tjen Li Lian di geni.com https://shorturl.at/yxjph. Foto prasasti oleh Sugiri Kustedja.

Keluarga

Dari daftar silsilah yang dimuat di geni.com, tercatat beberapa hal berikut ini: dugaan tahun lahir antara 1794-1854. Menilik pengangkatannya sebagai Letnan Tionghoa Bandung pada tahun 1882, maka angka tahun 1854 atau mungkin beberapa tahun lebih awal, lebih dapat diandalkan karena artinya pada waktu pelantikannya usianya masih di sekitar 30-40 tahunan. Kemudian tercatat juga ada dua nama istri. Yang pertama tidak disebutkan, sedangkan yang kedua bernama Tjoen Sie Moy. Disebutkan ia adalah ayah dari empat orang anak, namun hanya anak kedua saja yang disebutkan namanya dalam daftar, yaitu Chen Yun Long atau Tan Joen Liong, yang kemudian hari menjadi Letnan Tionghoa Bandung ketiga (1888-1917).

Tiga nama anak lainnya terbaca dalam sebuah dokumen bertulis tangan yang diunggah di situs yang sama, yaitu: Tan Joen Hieng, Tan Joen Phat, dan Tan Joen Siong. Dalam dokumen ini juga disebutkan bahwa Tan Haij Long wafat di Koen Tjoe, China, pada tanggal 1 Desember 1888. Dalam sebuah dokumen bertulis tangan lainnya tercatat juga daftar nama anak dan cucu Tan Haij Long yang seluruhnya berjumlah sembilan orang.

Dokumen keluarga yang menyebutkan tanggal dan lokasi wafatnya Tan Haij Long di Tiongkok. Dokumen ini diakses dari halaman mengenai Tan Haij Long di geni.com. Tertulis keterangan bahwa dokumen berasal dari album Tan Haij Long oleh Tjen Li Lian (曾丽莲)

*****

Sistem Opsir Tionghoa, Wijkenstelsel, dan Oeij Bouw Hoen; Letnan Tionghoa Bandung Pertama

@CikadutHeritage

Sistem Opsir dan Permukiman untuk Golongan Tionghoa

Dari buku Sejarah Nasional Indonesia kita sudah tahu bahwa dahulu ada sebuah pelabuhan besar di pesisir utara Pulau Jawa bagian barat dengan nama Sunda Kelapa yang merupakan bagian kekuasaan Kerajaan Sunda. Pada tanggal 22 Juni 1527 kota pelabuhan ini direbut oleh Fatahilah dari Kerajaan Demak dan sejak itu nama kota pelabuhan ini lebih populer sebagai Jayakarta.

Pada masa itu wilayah Nusantara merupakan bagian dari jaringan kegiatan perdagangan (terutama rempah) internasional yang mendatangkan banyak bangsa-bangsa lain seperti para pedagang dari Gujarat, Portugis, Tiongkok, Jepang, dan kerajaan-kerajaan mandiri di wilayah Nusantara sendiri. Portugis bahkan sudah menguasai Bandar Malaka pada tahun 1511 dan mendirikan benteng pertamanya di Ternate pada tahun 1522.

Bangsa Belanda baru datang pada akhir abad ke-16 melalui sebuah ekspedisi yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman dan tiba di pelabuhan Banten pada tahun 1596. Kegiatan perdagangan yang lebih besar dari Belanda dimulai dengan pendirian kongsi dagang Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC pada tahun 1602. Pada awal kehadirannya di Nusantara, VOC dengan gubernur jendralnya selalu berkantor di sebuah kapal di perairan Nusantara.

Pada bulan Mei 1619 VOC di bawah pimpinan Gubernur Jendral Jan Pieterzoon Coen merebut Jayakarta, kemudian mendirikan sebuah benteng dan kota di sebelah selatannya. Untuk membangun benteng dan kota baru, JP Coen membujuk seorang pemimpin golongan Tionghoa di Banten, Souw Beng Kong, untuk pindah ke Batavia bersama dengan komunitasnya. JP Coen mengangkatnya menjadi Kapitein der Chineezen pada tanggal 11 Oktober 1619. Jadilah Souw Beng Kong sebagai Kapiten Tionghoa pertama di Hindia Belanda.

Beberapa tugas utama Kapiten Tionghoa saat itu adalah menjadi perantara antara VOC dengan komunitas Tionghoa, mengatur urusan-urusan internal komunitas Tionghoa seperti hukum adat, pajak, dan ketertiban, termasuk mengatur tenaga kerja dan urusan perdagangan.

Buku Ni Hoe Kong; Kapitein Tionghoa di Betawie dalem Tahon 1740 karya B. Hoetink yang aslinya terbit  dalam bahasa Belanda tahun 1918, kemudian diterjemahkan oleh Liem Koen Hian ke dalam bahasa Melayu (NV Handelmij & Drukkerij, Batavia 1923) juga memuat keterangan tentang dimulainya sistem opsir Tionghoa oleh Jan Pieterzoon Coen yang disusul dengan hirarki di bawahnya, Letnan Tionghoa(Luitenant der Chineezen), dengan tugas membantu kapitein, yang baru berlaku pada tahun 1678.

Kemudian hari, khusus untuk beberapa kota besar seperti Batavia, Semarang, Surabaya, diberlakukan pangkat di atas Kapitein, yaitu Mayor, dan pertama kali diberikan kepada Tan Hong Gan di Semarang pada tahun 1829. Lalu disusul oleh The Goan Tjiang di Surabaya tahun 1834, dan Tan Eng Goan di Batavia tahun 1837.

Makam Souw Beng Kong, Kapiten Tionghoa Batavia pertama. (1930) KITLV-89276.

Keberadaan para pemimpin (opsir) golongan Tionghoa itu tentu tidak lepas dari keberadaan kampung-kampung Tionghoa yang ditegaskan oleh Leonard Blusse dan Menghong Chen dalam The Archives of the Kong Koan of Batavia (Sinica Leidensia, 2003) sudah dibentuk oleh VOC sejak 1619. Selain itu, Mona Lohanda dalam bukunya The Kapitan of Cina in Batavia 1837-1942 menyebut pembentukan opsir lain, yaitu Chineesche Wijkmeester (kepala distrik), untuk mengatur kampung-kampung Tionghoa tersebut yang dilakukan pada tahun 1685.

Selanjutnya Lohanda menjelaskan bahwa dalam sistem opsir tersebut di atas, Letnan Tionghoa-lah yang memiliki kontak paling intensif dengan anggota masyarakatnya. Mereka mengawasi para Wijkmeester atau kepala distrik. Semua urusan warga Tionghoa, mulai dari pengaduan, laporan, hingga penghargaan, disampaikan kepada Letnan Tionghoa melalui Wijkmeester. Lalu Letnan Tionghoa menyampaikan masalah sehari-hari itu dalam rapat rutin Kong Koan (Dewan Tionghoa).

Setelah kerusuhan di Batavia tahun 1740, VOC memperketat sistem permukiman terbatas yang disebut wijkenstelsel yang menjadi bibit terbentuknya kampung-kampung Tionghoa yang biasa disebut pecinan di banyak tempat. Upaya pembentukan kampung-kampung Tionghoa juga pernah dilakukan oleh Gubernur Jendral Daendels melalui besluit tanggal 9 Juni 1810 yang berisi perintah pembentukan kampung-kampung Tionghoa di sekitar kabupaten-kabupaten Tjiandjoer, Bandoeng, Parakanmuncang, Sumedang, Sukapura, Limbangan, dan Galuh, dengan tujuan agar lahan-lahan luas yang saat itu terbengkalai dapat ditanami oleh berbagai tanaman seperti tembakau, nila, kapas, kacang, dslb.

Menurut De Haan dalam bukunya Priangan jilid pertama, setelah besluit itu, pada tahun 1812 baru terbentuk sebuah kampung Tionghoa kecil di Cianjur yang dihuni oleh sekitar 50 orang. Masyarakat Tionghoa saat itu tampaknya kurang tertarik pindah ke Priangan hanya untuk mengelola lahan kosong yang sebenarnya sudah dapat mereka lakukan di Ommelanden saat itu (wilayah pedalaman di luar Batavia). Daendels hanya berhasil memindahkan secara paksa kurang dari satu lusin keluarga pengrajin Tionghoa saja ke Priangan. De Haan juga menegaskan bahwa tidak ada jejak dokumen yang menyatakan upaya pembentukan kampung-kampung Tionghoa di Priangan oleh Daendels ini berhasil.

Walaupun sudah ada sistem pemisahan kampung berdasarkan etnisitas, namun seiring berjalannya waktu, terjadi juga pembauran antarbangsa di banyak wilayah di Jawa. Pada tahun 1816 diberlakukan passenstelsel (surat jalan) berdasarkan Staatsblad van Nederlandsch-Indie 1816 No.5 dan pengetatan sistem permukiman melalui Staatsblad 1835 No.37 yang menjelaskan bahwa pemisahan kampung Tionghoa itu diperlukan untuk menghindari tercampurnya berbagai bangsa di Jawa.

Dengan semakin ketatnya aturan wijkenstelsel, maka suku bangsa dari Timur Asing diwajibkan untuk tinggal di lokasi-lokasi yang sudah ditentukan dan terbatas untuk suku bangsa tersebut saja.

Situasi di Bandung

Sudah disebut di atas bahwa pada masa pemerintahan Gubernur Jendral Daendels sudah ada perintah untuk mendirikan kampung-kampung Tionghoa di wilayah Priangan, termasuk Bandung. Namun kemudian De Haan menyatakan bahwa perintah Daendels tersebut tidak berjalan dengan baik, sehingga hanya di Cianjur saja sempat terbentuk komunitas dan kampung Tionghoa dalam skala kecil.

Walaupun begitu, Devisanthi Tunas menyebutkan dalam tesisnya bahwa sudah ada rumah-rumah Tionghoa di kawasan luar Pecinan Bandung yang dikenal sekarang. Sayangnya sumber informasi ini tidak disebutkan dan belum dapat kami temukan dari penelusuran arsip offline dan online. Mungkin juga kesimpulan ini diambil dari isi besluit Daendels yang disebut di atas.

Di sisi lain, kami temukan sebuah tulisan berjudul “Bandoeng Vroeger en Thans” yang dimuat secara bersambung dalam koran De Preanger-bode terbitan bulan September 1918. Tulisan yang dibuat oleh seseorang dengan inisial R.T. dan berisi kisah tentang pengalamannya di Priangan pada tahun 1868-1874. Dalam tulisannya disinggung bahwa pada tahun 1874 di Bandung terdapat kurang lima keluarga Tionghoa, di antara yang diingatnya adalah Oeij Bouw Hoen, Oeij Bouw Tjiang, dan Tam Long. Dua nama pertama adalah keluarga pedagang, sedangkan Tam Long adalah seorang tukang kayu yang tinggal di dataran tinggi di persimpangan antara Hospitaalweg, Sumatrastraat dan Tamblongweg. Nama Tam Long masih digunakan sebagai nama jalan hingga sekarang walaupun penyebutannya mengalami perubahan menjadi Tamblong.

Sedikitnya jumlah orang Tionghoa yang tinggal di Bandung pada waktu itu dapat dimengerti mengingat bahwa pada tahun 1820 pemerintah kolonial mengeluarkan Staatsblad No.27  yang berisi antara lain melarang orang-orang Eropa, Tionghoa, dan para pedagang bebas, untuk bertempat tinggal di wilayah Priangan. Staatsblad ini berhubungan langsung dengan kebijakan Preangerstelsel yang sudah berlangsung sejak awal abad ke-18, yaitu menjadikan Priangan sebagai wilayah monopoli produksi kopi oleh VOC/Hindia Belanda.

Isi Pasal 1-4 Staatsblad tersebut: (1) Tidak seorang Tionghoa pun diperbolehkan menetap di Keresidenan Priangan tanpa memperoleh izin khusus dari Gubernur Jenderal. (2) Izin demikian hanya akan diberikan dalam keadaan khusus, dan setiap saat dapat dicabut. (3) Semua orang Tionghoa yang berada di Keresidenan Priangan tanpa izin akan dikeluarkan. (4) Para residen dan pejabat lainnya dibebani pelaksanaan ketentuan ini.

Kebijakan penutupan wilayah Priangan ini berlangsung cukup lama, lebih dari 50 tahun, dan mulai dihapuskan dengan terbitnya peraturan agraria yang (Agrarische Wet) yang diterbitkan dalam  Staatsblad van Nederlandsch-Indië 1870 No. 55. Salah satu poin utama dalam Staatsblad ini adalah bahwa semua tanah yang tak dapat dibuktikan sebagai milik pribadi adalah milik negara dan bahwa pemerintah kolonial dapat memberikan hak sewa jangka panjang (erfpacht) paling lama 75 tahun kepada pihak swasta. Hal ini mendorong masuknya modal swasta ke wilayah Priangan dan dengan begitu sekaligus membuka wilayah Priangan yang sebelumnya tertutup. Sejak inilah di wilayah Priangan secara bertahap bermunculan kawasan-kawasan perkebunan swasta dengan perkembangan yang sangat pesat.

Demikian panjang perjalanan masalah pengaturan kalangan Tionghoa di Batavia dan beberapa kota besar lainnya di Jawa, namun pengaruhnya belum sampai ke kawasan Priangan, terutama Bandung, hingga paruh kedua abad ke-19. Di Bandung dan beberapa kota lain di Priangan kebijakan wijkenstelsel dengan wijkmeesternya belum diterapkan hingga menjelang abad ke-20 karena skala komunitasnya yang kecil dan belum memberikan dampak ekonomi yang signifikan.

Sistem wijkenstelsel secara umum mulai dihapuskan melalui Staatsblad 1915 No.679. Penghapusan ini tidak hanya berlaku untuk Chineesenwijk tapi juga wijkwijk dari bangsa-bangsa Timur Asing lainnya. Setelah diundangkannya Staatsblad tersebut, peranan dan pengaruh opsir di berbagai daerah pun ikut turun hingga akhirnya hilang sama sekali dan dengan demikian, setiap suku bangsa tidak lagi harus menetap di lokasi yang sudah ditentukan oleh pemerintah kolonial. Semua golongan bebas menetap di mana saja mereka mau dan mampu.

Oeij Bouw Hoen

Di atas sudah disebutkan keberadaan nama Oeij Bouw Hoen di Bandung pada tahun 1874, dan ternyata dialah orang yang kemudian hari menjadi Letnan Tionghoa Bandung pertama. Dari pencarian lebih lanjut mengenai nama-nama yang disebutkan dalam Bandoeng Vroeger en Thans, kami temukan nama Oeij Bouw Hoen dalam dua berita koran lama yang terbit pada tanggal yang sama, 4 Maret 1881, yaitu Java-bode dan Bataviaasch Handelsblad. Isi beritanya pun sama, pengumuman dari Administrasi Dalam Negeri untuk Urusan Warga Timur Asing mengenai penunjukan para pemimpin golongan Tionghoa di beberapa wilayah Borneo (Kalimantan) bagian barat yang masing-masing dipimpin oleh seorang Kapitein der Chineezen (kapiten). Khusus untuk Pontianak, Kapiten Liem Ien Long dibantu oleh seorang letnan Tshia Men Soen. Satu-satunya yang bukan bagian dari Borneo dalam berita ini adalah penunjukan Lieutenant der Chineezen te Bandoeng di Keresidenan Priangan, yaitu Oeij Bouw Hoen (dalam Java-bode namanya tertulis sebagai Oeij Boun Hoen) yang sebelumnya sudah menjabat sebagai Wijkmeester (pemimpin daerah).

Pelantikan Oeij Bouw Hoen sebagai Letnan Tionghoa dikabarkan oleh koran Java-bode edisi 18 Juni 1881 yang menyebutkan bahwa pelantikan resmi telah berlangsung pada hari Sabtu lalu (11 Juni) di Pendopo Kabupaten dan dihadiri oleh sejumlah pejabat pribumi dan kolonial. Setelah pengambilan sumpah dan mendapat ucapan selamat dari Residen Priangan, Oeij Bouw Hoen menyampaikan pidatonya kepada seluruh warga Tionghoa yang hadir agar dapat menjaga perilaku baik sebagai warga Hindia-Belanda. Pada malam harinya, di rumah Letnan Tionghoa baru itu diadakan perayaan yang meriah dan dihadiri oleh banyak orang.

Walaupun berita pengangkatannya sebagai Letnan Tionghoa Bandung dapat kami temukan dari arsip koran di delpher.nl tapi sayang sekali kegiatan-kegiatan Oeij Bouw Hoen selama menjalankan peran sebagai Letnan Tionghoa belum dapat kami temukan. Di koran-koran lama lebih banyak termuat nama Oeij Boen Hong, putra bungsunya yang cukup banyak memuat iklan untuk berbagai macam bidang usahanya di Bandung. Dalam buku Jejak Budaya Komunitas Tionghoa di Bandung (Kustedja, S. 2018 hal 40-41) tercatat nama istrinya, Kwa Him Nio dan anak-anaknya, Oeij Boen Hoeij, Oeij Boen Liong, dan Oeij Boen Hong. Oeij Boen Hoeij sempat diusulkan untuk mengganti ayahnya sebagai Letnan Tionghoa, namun ternyata pemerintah Hindia Belanda memilih Tan Haij Long sebagai Letnan Tionghoa Bandung kedua.

Berita koran yang dapat kami temukan mengenai Oeij Bouw Hoen selanjutnya justru berupa iklan-iklan mengenai wafatnya hanya beberapa bulan setelah pelantikannya sebagai Letnan Tionghoa.

Berita penunjukan Oeij Bouw Hoen sebagai Letnan Tionghoa Bandung dalam Java-bode 4 Maret 1881 dan pelantikannya yang dimuat dalam Java-bode 18 Juni 1881. Cuplikan dari arsip delpher.nl.

Dalam kolom iklan koran Java-bode edisi 20 Januari 1882 termuat berita pendek mengenai wafatnya Letnan Tionghoa Oeij Bouw Hoen pada tanggal 18 Januari 1882. Pembuat iklan adalah Oeij Bouw Tjiang dan Oeij Boen Hong sebagai pelaksana warisan. Seminggu kemudian Soerabaijasch Handelsblad membuat artikel pendek mengenai Oeij Bouw Hoen yang disebut sebagai tokoh yang sangat dihormati dan dicintai oleh warga Bandung, baik dari kalangan atas maupun bawah. Orang yang baik hati dan suka membantu orang dan karena itu ia memiliki banyak teman. Oeij Bouw Hoen telah mengabdi dengan jujur dan setia kepada negara sehingga dianugrahi gelar kehormatan Letnan Tionghoa melalui Konversi 1881. Pemakaman Oeij Bouw Hoen akan dilaksanakan pada awal bulan Februari dan diprediksi akan berlangsung ramai sebagaimana yang terjadi saat pelantikannya sebagai Letnan Tionghoa atau pun saat perayaan ulang tahunnya.

Peta Bandoeng en omstreken D E 29,5 dari Topographische Inrichting, Batavia, 1910.

Nisan Oeij Bouw Hoen saat ditemukan kembali oleh Komunitas Aleut pada tahun 2014. Foto: Komunitas Aleut.

Berdasarkan informasi pada sebuah peta terbitan tahun 1904, lokasi permakaman untuk golongan Tionghoa saat itu terletak di sebelah timur Tjitjendoweg (Jalan Cicendo). Selain bagian barat, seluruh kompleks permakaman ini berbatasan dengan sungai Cikapundung yang mengalir melingkar. Dalam konteks kondisi saat ini, lokasi ini ada di Babakan Ciamis, di sebelah utara Kebon Sirih sekarang.

Setelah pemakaman jenazah Oeij Bouw Hoen tersebut, 132 tahun kemudian, tepatnya 22 Maret 2014, secara tidak sengaja nisannya ditemukan oleh Ridwan Hutagalung bersama Komunitas Aleut saat melacak jejak keberadaan makam-makam Tionghoa di dalam kota Bandung. Posisi nisan saat itu menempel secara vertikal pada bagian bawah dinding luar sebuah rumah di tengah permukiman padat sebelah timur RS Mata Cicendo. Menurut cerita warga sepuh yang ditemui saat itu, posisi nisan sebelum dibangun rumah memang sama seperti itu. Artinya tidak ada perubahan posisi nisan dari kondisi sebelumnya. Ditambahkan pula bahwa sampai sekitar tahun 1970-an masih ada beberapa nisan lain dan makam di dekatnya. Kami duga salah satunya adalah nisan istrinya karena disebut bersebelahan. Seorang sepuh lain mengatakan masih pernah melihat anggota keluarga pemilik nisan tersebut yang datang dari Amerika dan bahwa masih ada kerabatnya yang tinggal di Jalan Supratman. Tentu saja ini hanya informasi selewat saja berdasarkan ingatan seseorang yang sudah sangat sepuh, sehingga belum tentu kebenarannya. ***

Boen Soeij Tjoe; Pengusaha dalam Banyak Bidang

@CikadutHeritage

Pada pertengahan tahun 2024 lalu, dalam sebuah kegiatan survei di TPU Cikadut, kami mampir ke sebuah makam yang berada dalam bangunan bergaya kolonial. Nama yang tertera pada nisannya cukup sering disebut, tapi informasi tentangnya terhitung minim, terutama dalam bentuk buku. Namanya Boen Soeij Tjoe (1854-1918), seorang aannemer yang berkiprah di Bandung pada pertengahan abad ke-19. Di sebelahnya adalah nisan istrinya, Tan Ten Njong (1867-1913). Nama Boen Soeij Tjoe sering disebut berkaitan dengan pembangunan Hotel Surabaya di Jalan Kebonjati, beberapa bangunan di sekitar Cibadak, Klenteng Xie Tian Gong di Jalan Klenteng, bahkan gedung keresidenan di Bandung.

Makam Boen Soeij Tjoe dan Tan Ten Njong. Foto: Komunitas Aleut, 2024.

Informasi awal kami dapatkan dari Kustedja (2017), bahwa Boen Soeij Tjoe adalah seorang ahli dalam bidang konstruksi kayu yang terlibat dalam pembangunan Klenteng Xie Tian Gong. Klenteng yang terletak di sebelah barat Kota Bandung ini dibangun pada tahun 1885, pada masa komunitas Tionghoa Bandung berada dalam kepemimpinan Tan Haij Long (= Tan Haij Hap) sebagai Letnan Tionghoa yang kedua di Bandung. Saat itu sistem opsir di Bandung memang belum lama diberlakukan.

Tan Haij Long menggantikan Letnan Tionghoa sebelumnya dan yang pertama di Bandung, yaitu Oei Bouw Hoen, yang baru dilantik pada 1881 namun wafat beberapa bulan kemudian, pada 18 Januari 1882. Oei Bouw Hoen menjabat sebagai Letnan Tionghoa pertama di Bandung sejak 2 Maret 1881 bersamaan dengan penetapan berlakunya Letnan Tionghoa di Bandung. Penetapan ini dapat dilihat dalam Staatsblad van Nederlandsch Indie No.27 tanggal 2 Maret 1881 dan diberitakan juga dalam Java-bode dan Bataviaasch Handelsblad edisi 4 Maret 1881. Sebelumnya Oei Bouw Hoen merupakan wijkmeester Pecinan Bandung.

Berita penunjukan Tan Haij Long sebagai Letnan Tionghoa Bandung kedua dalam koran Java-bode (atas) dan Bataviaasch Handelsblad (bawah), keduanya edisi 4 Maret 1882.

Kembali ke Boen Soeij Tjoe. Masih menurut Kustedja (2017), disebutkan bahwa Boen Soeij Tjoe terlibat dalam pembangunan klenteng Xie Tian Gong berdasarkan permintaan Tan Haij Long yang membutuhkan tenaga ahli bangunan. Boen Soeij Tjoe berasal dari daerah Mei-shien, Shin-fu-hie, dan merupakan warga sub-etnis Hakka. Ia memiliki empat saudara kandung, semuanya laki-laki. Dua dari saudaranya wafat di Tiongkok, sedangkan tiga lainnya, termasuk Boen Soeij Tjoe, merantau melintasi Laut Selatan. Satu orang mendarat di Pulau Bangka, satu lagi di Banten atau Tangerang, sedangkan Boen Soeij Tjoe pergi lebih jauh, ke Bandung. Informasi bagian ini sepertinya didapat dari cerita lisan atau catatan keluarga saja karena tidak ada data kami temukan di arsip koran lama yang biasa memuat juga kisah-kisah keluarga seperti ini.

Di Bandung, Boen Soeij Tjoe mencoba peruntungan dengan mula-mula berdagang kacang merah, tapi kemudian merambah ke berbagai bidang usaha lain, seperti penyediaan makanan untuk penjara, dan perdagangan bahan bakar minyak, hingga mendirikan perusahaan perkebunan. Kegiatan perdagangan Boen Soeij Tjoe ini dapat disimak dalam koran-koran terbitan sejak tahun 1887 hingga awal abad ke-20.

Pada tanggal 28 Maret 1887, koran De Nieuwe Vorstenlanden memberitakan sebuah tender untuk perbaikan jembatan di atas pintu air Kanal Gunung Sahari yang dimenangkan oleh seorang pengusaha di Bandung bernama Wortelboer. Disebutkan bahwa Boen Soeij Tjoe bersama dengan Tan Haij Long bertindak sebagai penjamin pengusaha tersebut.

Selain berita-berita mengenai beberapa tender kacang merah yang diikuti oleh Boen Soeij Tjoe, ada pula berita Boen Soeij Tjoe mengikuti tender untuk pengadaan makanan dan sirih untuk para tahanan dan minyak bumi untuk penjara-penjara seperti dapat dibaca dalam koran Java-bode edisi 30 Oktober 1891.

Pada bulan 15 Mei 1892 Boen Soei Tjoe dan beberapa rekannya mendirikan perusahaan Sindangsari Kultuur-maatschappij Seng Ho Hong di Batavia untuk jangka waktu 75 tahun. Perusahaan ini bertujuan untuk mengolah lahan kopi dan tanaman budidaya lain di distrik Bandjaran, wilayah Priangan. Bertindak sebagai komisaris adalah Tan A Tjoen dan Lie A Kam. Ada kemungkinan Tan Djoen Liong yang ketika itu menjabat sebagai Letnan Tionghoa Bandung ketiga juga ikut menanam modal untuk perusahaan ini.

Bidang usaha Boen Soei Tjoe lainnya yang dapat diikuti dari pemberitaan tender-tender adalah jasa cuci dan perbaikan pakaian rumah sakit serta pengadaan perlengkapan jahit untuk Departement van Oorlog periode 1893-1895.

Selain tentang perbaikan Kanal Gunung Sahari yang sudah disebut di atas, kiprah Boen Soeij Tjoe sebagai aannemer belum terlacak dalam arsip koran-koran Hindia-Belanda. Kegiatan bidang bangunan ini malah lebih banyak memberitakan putra sulungnya, Boen Joek Sioe, yang bahkan pernah mendirikan perusahaan bersama arsitek C.H. Lugten dengan nama: C.H. Lugten en Boen Joek Sioe – Architeten en Aannemers. Sebagai alamat kantor, dicantumkan kedua alamat mereka, yaitu Lombokstraat 22 (Lugten) dan Pasar Andir (Joek Sioe). Motto dalam iklannya, cukup unik: “Mengisi ruang kecil untuk iklan, tapi tempat besar untuk pekerjaan dan keandalan.”

Bangunan yang cukup sering dikaitkan dengan Boen Soeij Tjoe adalah Klenteng Xie Tian Gong. Ketika masih berdagang kacang itu, terjadi sebuah percakapan dengan seorang Belanda, dan diketahui bahwa Boen memiliki keahlian dalam pembuatan perangkat kayu dan orang Belanda tersebut memberinya pekerjaan membuat berbagai perlengkapan rumah tangga. Kemudian diketahui pula oleh orang Belanda tersebut bahwa Boen juga berpengalaman dalam bidang bangunan. Sepertinya itulah pijakan awal keterlibatannya dalam pembangunan Klenteng Xie Tian Gong kemudian hari. Boen Soeij Tjoe kemudian menikah dengan Tan Ten Njong, putri bungsu Tan Haij Long, Letnan Tionghoa kedua di Bandung (1882-1888).

Selain Klenteng Xie Tian Gong, dalam buku Jejak Budaya Komunitas Tionghoa di Bandung disebutkan juga bahwa Boen Soeij Tjoe membangun deretan rumah petak miliknya di antara Gg. Wangsa dan Gg. Irsad, lalu juga membangun Hotel Surabaya. Info lain yang belum dapat diverifikasi adalah pekerjaan memperbaiki klenteng tua Welas Asih di Cirebon dan klenteng Kak Sie di Semarang.

Foto Boen Soeij Tjoe dan Tan Ten Njong koleksi Jimmy Gani Tjandrajana dari buku Klenteng Xie Tian Gong.

Satu kisah lain yang cukup menarik namun agak sulit mendapatkan verifikasinya adalah keterlibatan Boen Soeij Tjoe dalam pembangunan gedung keresidenan di Cicendo. Kisah ini merupakan cerita lanjutan dari pertemuannya dengan orang Belanda di atas. Jadi, di lain kesempatan, ketika kepadanya ditunjukkan gambar sebuah bangunan, Boen menyanggupi untuk mengerjakannya. Konon, itu adalah gambar gedung keresidenan yang kelak dikenal dengan sebutan Gedung Pakuan. Informasi ini masih perlu diperiksa lebih lanjut mengingat bahwa gedung keresidenan itu selesai dibangun pada tahun 1867 seperti yang tertulis (salah satunya) dalam buku Bandoeng; Beeld van Een Stad (R.P.G.A. Voskuil, Asia Maior, Purmerend, 1996. Hal-28). Mengikuti data angka tahun kelahiran dari buku Kustedja, pada saat itu usia Boen Soeij Tjoe barulah 13 tahun. Selain itu, buku Blik op het Indisch Staatbestuur (A.J.W. van Delden, W. Bruning, Batavia, 1875) menyebutkan bahwa gedung keresidenan Bandung dibangun dengan biaya yang besar dan pekerjaannya berlangsung selama sepuluh tahun. Keberatan lainnya adalah fakta bahwa pembangunan gedung-gedung sipil pada waktu itu berada dalam tanggung jawab Burgerlijke Openbare Werken (seperti Departemen Pekerjaan Umum sekarang) dan umumnya tercatat dalam buku Laporan Kerja BOW yang arsipnya dapat diakses juga secara online.

Iklan wafatnya Boen Soeij Tjoe dalam koran De Preanger-bode tanggal 28 Februari 1918.

Dalam iklan meninggalnya Boen Soeij Tjoe (atas) dalam koran De Preanger-bode 28 Februari dan 1 Maret 1918 disebutkan nama aliasnya, Boen A Tjit. Di bagian bawah diumumkan juga bahwa proses pemakaman akan dilangsungkan pada tanggal 13 Maret 1918 pagi. Dua minggu kemudian, pada hari pemakamannya, 13 Maret 1918 koran De Preanger-bode menurunkan liputan pendek acara pemakaman tersebut seraya menyebutkan bahwa Boen Soeij Tjoe adalah seorang tokoh yang sangat dikenal dan dihormati di komunitas Tionghoa. Pemakamannya menarik banyak perhatian dan banyak bunga dibawa ke tempat peristirahatan terakhirnya itu. Dalam iklan-iklan dan artikel itu tidak ada keterangan pekerjaannya sebagai aannemer, bandingkan dengan keterangan untuk pembuat iklan, putra sulungnya, Boen Joek Sioe. ***  

Kuburan Tionghoa Cikadut, Riwayatmu Kini

Komunitas Aleut

Kompleks Makam Cikadut terletak di Kelurahan Jatihandap, Kecamatan Mandalajati Kota Bandung, saat ini mempunyai 6 orang karyawan. Terdiri dari Kepala TPU, Kepala Tata Usaha, Sekretaris dan 3 orang staf. Petugas lapangan dipegang oleh masyarakat setempat misalnya sebagai tukang gali kubur, bersih-bersih kubur, perawatan bangunan makam, dan sebagainya. Luas wilayah makam sekitar 52 hektar. 35 hektar dikelola oleh pemerintah Kota Bandung, sedangkan sisanya sekitar 17 hektar dimiliki oleh swasta dengan wilayah termasuk Kabupaten Bandung. Menurut informasi petugas lapangan dan masyarakat sekitar, tanah-tanah yang sudah dibeli secara pribadi dari masyarakat untuk dijadikan makam luasnya melebihi wilayah peruntukan makam yang resmi, sehingga kalau ditotal wilayah pemakaman di Cikadut ini mencapai sekitar 130 hektar..

Keseluruhan jumlah makam di TPU Cikadut ini hampir mencapai 20.000 makam. Makam yang dikelola oleh Kota Bandung dalam artian ada catatan administrasinya hanya sekitar 2000 makam saja. Kebanyakan makam berdiri di kapling milik pribadi (Suryani, 2018).

KUBURAN TIONGHOA CIKADUT

Paling tidak, sampai tahun 1985, nama kawasan permakaman Tionghoa di sebelah timur laut Kota Bandung ini dikenal dengan nama Kuburan Cina Cikadut. Kadang terdengar juga sebagian orang menyebutnya sebagai bong atau sentiong. Sampai sekitar tahun 1990-an, bila melakukan perjalanan melewati Jalan Raya Ujungberung (sekarang Jl. AH Nasution), masih dapat terlihat sebagian makam yang berada di ketinggian.

Pemandangan ini selalu menarik perhatian para pelintas dari kejauhan karena keberadaan makam-makam warna warni di atas perbukitan. Pemandangan kawasan makam ini terlihat lebih jelas lagi bila melintasi Jalan Jatihandap ke arah Jalan Sasakbatu atau dari Jalan Cicabe-Jatihandap Timur ke arah utara. Sudah lama pemandangan seperti ini hilang dari pengalaman karena maraknya pembangunan permukiman di sekeliling kawasan permakaman.

Salah satu sudut TPU Cikadut saat ini. Google street view, 2024.
Continue reading