Boen Soeij Tjoe; Pengusaha dalam Banyak Bidang

@CikadutHeritage

Pada pertengahan tahun 2024 lalu, dalam sebuah kegiatan survei di TPU Cikadut, kami mampir ke sebuah makam yang berada dalam bangunan bergaya kolonial. Nama yang tertera pada nisannya cukup sering disebut, tapi informasi tentangnya terhitung minim, terutama dalam bentuk buku. Namanya Boen Soeij Tjoe (1854-1918), seorang aannemer yang berkiprah di Bandung pada pertengahan abad ke-19. Di sebelahnya adalah nisan istrinya, Tan Ten Njong (1867-1913). Nama Boen Soeij Tjoe sering disebut berkaitan dengan pembangunan Hotel Surabaya di Jalan Kebonjati, beberapa bangunan di sekitar Cibadak, Klenteng Xie Tian Gong di Jalan Klenteng, bahkan gedung keresidenan di Bandung.

Makam Boen Soeij Tjoe dan Tan Ten Njong. Foto: Komunitas Aleut, 2024.

Informasi awal kami dapatkan dari Kustedja (2017), bahwa Boen Soeij Tjoe adalah seorang ahli dalam bidang konstruksi kayu yang terlibat dalam pembangunan Klenteng Xie Tian Gong. Klenteng yang terletak di sebelah barat Kota Bandung ini dibangun pada tahun 1885, pada masa komunitas Tionghoa Bandung berada dalam kepemimpinan Tan Haij Long (= Tan Haij Hap) sebagai Letnan Tionghoa yang kedua di Bandung. Saat itu sistem opsir di Bandung memang belum lama diberlakukan.

Tan Haij Long menggantikan Letnan Tionghoa sebelumnya dan yang pertama di Bandung, yaitu Oei Bouw Hoen, yang baru dilantik pada 1881 namun wafat beberapa bulan kemudian, pada 18 Januari 1882. Oei Bouw Hoen menjabat sebagai Letnan Tionghoa pertama di Bandung sejak 2 Maret 1881 bersamaan dengan penetapan berlakunya Letnan Tionghoa di Bandung. Penetapan ini dapat dilihat dalam Staatsblad van Nederlandsch Indie No.27 tanggal 2 Maret 1881 dan diberitakan juga dalam Java-bode dan Bataviaasch Handelsblad edisi 4 Maret 1881. Sebelumnya Oei Bouw Hoen merupakan wijkmeester Pecinan Bandung.

Berita penunjukan Tan Haij Long sebagai Letnan Tionghoa Bandung kedua dalam koran Java-bode (atas) dan Bataviaasch Handelsblad (bawah), keduanya edisi 4 Maret 1882.

Kembali ke Boen Soeij Tjoe. Masih menurut Kustedja (2017), disebutkan bahwa Boen Soeij Tjoe terlibat dalam pembangunan klenteng Xie Tian Gong berdasarkan permintaan Tan Haij Long yang membutuhkan tenaga ahli bangunan. Boen Soeij Tjoe berasal dari daerah Mei-shien, Shin-fu-hie, dan merupakan warga sub-etnis Hakka. Ia memiliki empat saudara kandung, semuanya laki-laki. Dua dari saudaranya wafat di Tiongkok, sedangkan tiga lainnya, termasuk Boen Soeij Tjoe, merantau melintasi Laut Selatan. Satu orang mendarat di Pulau Bangka, satu lagi di Banten atau Tangerang, sedangkan Boen Soeij Tjoe pergi lebih jauh, ke Bandung. Informasi bagian ini sepertinya didapat dari cerita lisan atau catatan keluarga saja karena tidak ada data kami temukan di arsip koran lama yang biasa memuat juga kisah-kisah keluarga seperti ini.

Di Bandung, Boen Soeij Tjoe mencoba peruntungan dengan mula-mula berdagang kacang merah, tapi kemudian merambah ke berbagai bidang usaha lain, seperti penyediaan makanan untuk penjara, dan perdagangan bahan bakar minyak, hingga mendirikan perusahaan perkebunan. Kegiatan perdagangan Boen Soeij Tjoe ini dapat disimak dalam koran-koran terbitan sejak tahun 1887 hingga awal abad ke-20.

Pada tanggal 28 Maret 1887, koran De Nieuwe Vorstenlanden memberitakan sebuah tender untuk perbaikan jembatan di atas pintu air Kanal Gunung Sahari yang dimenangkan oleh seorang pengusaha di Bandung bernama Wortelboer. Disebutkan bahwa Boen Soeij Tjoe bersama dengan Tan Haij Long bertindak sebagai penjamin pengusaha tersebut.

Selain berita-berita mengenai beberapa tender kacang merah yang diikuti oleh Boen Soeij Tjoe, ada pula berita Boen Soeij Tjoe mengikuti tender untuk pengadaan makanan dan sirih untuk para tahanan dan minyak bumi untuk penjara-penjara seperti dapat dibaca dalam koran Java-bode edisi 30 Oktober 1891.

Pada bulan 15 Mei 1892 Boen Soei Tjoe dan beberapa rekannya mendirikan perusahaan Sindangsari Kultuur-maatschappij Seng Ho Hong di Batavia untuk jangka waktu 75 tahun. Perusahaan ini bertujuan untuk mengolah lahan kopi dan tanaman budidaya lain di distrik Bandjaran, wilayah Priangan. Bertindak sebagai komisaris adalah Tan A Tjoen dan Lie A Kam. Ada kemungkinan Tan Djoen Liong yang ketika itu enjabat sebagai Letnan Tionghoa Bandung ketiga juga ikut menanam modal untuk perusahaan ini.

Bidang usaha Boen Soei Tjoe lainnya yang dapat diikuti dari pemberitaan tender-tender adalah jasa cuci dan perbaikan pakaian rumah sakit serta pengadaan perlengkapan jahit untuk Departement van Oorlog periode 1893-1895.

Selain tentang perbaikan Kanal Gunung Sahari yang sudah disebut di atas, kiprah Boen Soeij Tjoe sebagai aannemer belum terlacak dalam arsip koran-koran Hindia-Belanda. Kegiatan bidang bangunan ini malah lebih banyak memberitakan putra sulungnya, Boen Joek Sioe, yang bahkan pernah mendirikan perusahaan bersama arsitek C.H. Lugten dengan nama: C.H. Lugten en Boen Joek Sioe – Architeten en Aannemers. Sebagai alamat kantor, dicantumkan kedua alamat mereka, yaitu Lombokstraat 22 (Lugten) dan Pasar Andir (Joek Sioe). Motto dalam iklannya, cukup unik: “Mengisi ruang kecil untuk iklan, tapi tempat besar untuk pekerjaan dan keandalan.”

Bangunan yang cukup sering dikaitkan dengan Boen Soeij Tjoe adalah Klenteng Xie Tian Gong. Ketika masih berdagang kacang itu, terjadi sebuah percakapan dengan seorang Belanda, dan diketahui bahwa Boen memiliki keahlian dalam pembuatan perangkat kayu dan orang Belanda tersebut memberinya pekerjaan membuat berbagai perlengkapan rumah tangga. Kemudian diketahui pula oleh orang Belanda tersebut bahwa Boen juga berpengalaman dalam bidang bangunan. Sepertinya itulah pijakan awal keterlibatannya dalam pembangunan Klenteng Xie Tian Gong kemudian hari. Boen Soeij Tjoe kemudian menikah dengan Tan Ten Njong, putri bungsu Tan Haij Long, Letnan Tionghoa kedua di Bandung (1882-1888).

Selain Klenteng Xie Tian Gong, dalam buku Jejak Budaya Kounitas Tionghoa di Bandung disebutkan juga bahwa Boen Soeij Tjoe membangun deretan rumah petak miliknya di antara Gg. Wangsa dan Gg. Irsad, lalu juga membangun Hotel Surabaya. Info lain yang belum dapat diverifikasi adalah pekerjaan memperbaiki klenteng tua Welas Asih di Cirebon dan klenteng Kak Sie di Semarang.

Foto Boen Soeij Tjoe dan Tan Ten Njong koleksi Jimmy Gani Tjandrajana dari buku Klenteng Xie Tian Gong.

Satu kisah lain yang cukup menarik namun agak sulit mendapatkan verifikasinya adalah keterlibatan Boen Soeij Tjoe dalam pembangunan gedung keresidenan di Cicendo. Kisah ini merupakan cerita lanjutan dari pertemuannya dengan orang Belanda di atas. Jadi, di lain kesempatan, ketika kepadanya ditunjukkan gambar sebuah bangunan, Boen menyanggupi untuk mengerjakannya. Konon, itu adalah gambar gedung keresidenan yang kelak dikenal dengan sebutan Gedung Pakuan. Informasi ini masih perlu diperiksa lebih lanjut mengingat bahwa gedung keresidenan itu selesai dibangun pada tahun 1867 seperti yang tertulis (salah satunya) dalam buku Bandoeng; Beeld van Een Stad (R.P.G.A. Voskuil, Asia Maior, Purmerend, 1996. Hal-28). Mengikuti data angka tahun kelahiran dari buku Kustedja, pada saat itu  usia Boen Soeij Tjoe barulah 13 tahun. Selain itu, buku Blik op het Indisch Staatbestuur (A.J.W. van Delden, W. Bruning, Batavia, 1875) menyebutkan bahwa gedung keresidenan Bandung dibangun dengan biaya yang besar dan pekerjaannya berlangsung selama sepuluh tahun. Keberatan lainnya adalah fakta bahwa pembangunan gedung-gedung sipil pada waktu itu berada dalam tanggung jawab Burgerlijke Openbare Werken (seperti Departemen Pekerjaan Umum sekarang) dan umumnya tercatat dalam buku Laporan Kerja BOW yang arsipnya dapat diakses juga secara online.

Iklan wafatnya Boen Soeij Tjoe dalam koran De Preanger-bode tanggal 28 Februari 1918.

Dalam iklan meninggalnya Boen Soeij Tjoe (atas) dalam koran De Preanger-bode 28 Februari dan 1 Maret 1918 disebutkan nama aliasnya, Boen A Tjit. Di bagian bawah diumumkan juga bahwa proses pemakaman akan dilangsungkan pada tanggal 13 Maret 1918 pagi. Dua minggu kemudian, pada hari pemakamannya, 13 Maret 1918 koran De Preanger-bode menurunkan liputan pendek acara pemakaman tersebut seraya menyebutkan bahwa Boen Soeij Tjoe adalah seorang tokoh yang sangat dikenal dan dihormati di komunitas Tionghoa. Pemakamannya menarik banyak perhatian dan banyak bunga dibawa ke tempat peristirahatan terakhirnya itu. Dalam iklan-iklan dan artikel itu tidak ada keterangan pekerjaannya sebagai aannemer, bandingkan dengan keterangan untuk pembuat iklan, putra sulungnya, Boen Joek Sioe. ***  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *